Senin, 14 November 2016

Kimia Hijau untuk Karbohidrat - Apa, Mengapa dan Bagaimana

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan turunan minyak, untuk mengurangi pencemaran lingkungan, dan untuk menghadapi pemanasan global. Penggunaan biomassa sebagai bahan baku alternatif untuk bahan bakar fosil, karena melimpah dan relatif murah. Karbohidrat, yaitu, selulosa, pati, dan sukrosa, merupakan bahan baku penting dalam industri kimia karena diproduksi dari biomassa yang tersedia dalam jumlah besar, memfasilitasi aplikasi dalam skala besar. Karbohidrat memberikan fungsi penting dalam fisiologi sel dan pada ukuran nano di membran sel, sebagai bagian dari glycoconjugates (glikoprotein, glikolipid, dan polisakarida) yang mengandung glycocalyx. Akibatnya, karbohidrat memiliki peran penting dalam banyak proses biologis, termasuk infeksi bakteri dan virus, metastasis kanker, apoptosis, proliferasi neuron, dan banyak peristiwa penting lainnya.

Senyawa berbasis karbohidrat telah banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, deterjen, dan makanan. Sementara senyawa ini terutama diproduksi dengan metode kimia, penggunaan metode enzimatik juga telah diteliti selama 20 tahun terakhir sebagai alternatif yang lebih hijau untuk sintesis organik. Karena kelarutan enzim dan karbohidrat yang rendah pelarut organik konvensional, penelitian telah difokuskan pada bahan sintesis karbohidrat secara kimia dan enzimatik dalam pelarut hijau polar seperti air, cairan superkritis (SCFs), dan cairan ionik (ILs).

Sangat penting untuk menentukan konsep kimia hijau, dan prinsip-prinsip yang mengaturnya, untuk menyesuaikan kimia karbohidrat dalam produksi dan pengolahan yang berkelanjutan. Sebuah definisi kimia hijau diusulkan oleh Paul Anastas dan John Warner pada tahun 1998 sebagai desain produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan penggunaan atau generasi zat berbahaya. Green chemistry (kimia hijau) memiliki 12 prinsip-prinsip yang dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Pencegahan: Kimia harus mencegah produksi limbah beracun dan berbahaya dibandingkan membuang limbah tersebut setelah dibentuk.
  2. Ekonomi atom: Dalam sintesis, semua komponen yang digunakan seharusnya ditambahkan hingga batas maksimum dalam menghasilkan produk yang diinginkan.
  3. Sintesis kimia tidak berbahaya: alasan apapun, sintesis kimia harus didesain untuk menggunakan dan menghasilkan material dengan toksisitas rendah dan efek negatif yang rendah terhadap lingkungan.
  4. Mendesain bahan kimia dengan aman: Bahan-bahan kimia harus didesain untuk menghasilkan kegunaan yang diinginkan dengan rendahnya level toksisitas.
  5. Pelarut dan bahan pendukung yang lebih aman: Bahan pendukung (semisal pelarut) harus dihindari sebisa mungkin dan harus aman jika digunakan.
  6. Desain efisiensi energi: persyaratan energi dari proses kimia seharusnya diminimalkan untuk mengurangi dampak lingkungan, dan jika memungkinkan proses-proses dilakukan pada suhu dan tekanan ruang.
  7. Penggunaan bahan makanan yang dapat diperbaharui: bahan-bahan mentah (raw materials) atau bahan-bahan makanan (feedstocks) harus dapat diperbaharui (renewable).
  8. Mengurangi produk-produk turunan: jika memungkinkan, produk-produk turunan yang tidak diperlukan (seperti proteksi/deproteksi) seharusnya dihindari atau dicegah.
  9. Katalis: adalah sangat baik jika menggunakan reagen katalitik (seselektif mungkin) dibandingkan reagen stoikiometri.
  10. Desain degradasi: Produk-produk kimia seharusnya didesain agar mengalami proses degradasi yang tidak berbahaya (innocuous) dan bertahan di dalam lingkungan.
  11. Analisis real-time dalam pencegahan polusi: Metode analitik seharusnya dikembangkan untuk melibatkan analisis real-time tanpa pembentukan bahan-bahan yang berbahaya.
  12. Kimia yang lebih aman dalam pencegahan kecelakaan: Bahan-bahan yang terlibat dalam proses kimia harus dipilih untuk mengurangi potensi kecelakaan kimia.

Sumber :
Green Solvents in Carbohydrate Chemistry: From Raw Materials to Fine Chemicals
Angeles Farrán,† Chao Cai,‡ Manuel Sandoval,§ Yongmei Xu,∥ Jian Liu,∥ MarĂ­a J. Hernáiz,*,▽
and Robert J. Linhardt*,⊥


Minggu, 13 November 2016

Separator Baterai Ion Litium

Composite electrolyte membranes incorporating viscous copolymers with cellulose for high performance lithium-ion batteries

Jinfang Zhang et al. (State Key Laboratory of Powder Metallurgy, Central South University, China

Pendahuluan

Baterai ion litium (Lithium-ion batteries, LIB), yang memiliki kapasitas spesifik dan kinerja siklus yang tinggi jika dibandingkan dengan teknologi baterai yang lainnya, telah digunakan dalam perangkat portable dan peralatan elektrik yang beragam, dan diharapkan menjadi sumber energi yang utama dalam bidang  transportasi dan perangkat penyimpan energi. Dalam menghadapi permintaan yang meningkat, material elektrolit canggih, yang memberikan konduktivitas ion yang tinggi, keamanan yang baik dan sifat mekanik serta kontak/adesi yang sempurna dari elektroda sangat dibutuhkan. Elektrolit organik, dengan kontak antar-muka yang sempurna dengan elektroda dan kinerja elektrokimia sangat memungkinkan untuk aplikasi praktis, akan tetapi, keamanan menjadi perhatian utama dikarenakan kebocoran dan sifat mudah terbakar dari elektrolit organik yang volatil tersebut pada suhu tinggi (>60 derajat Celsius). Pada saat ini, elektrolit polimer padatan (Solid Polymer Electrolytes, SPEs) untuk LIBs menarik perhatian dikarenakan peningkatan keamanan pada suhu tinggi. Akan tetapi, konduktivitas ion rendah dan kontak antar-muka yang rendah antara elektrolit padatan dan material elektroda membatasi penggunaan SPEs secara praktis untuk LIBs.

PEO dan Turunannya
Perbaikan yang dilakukan terhadap SPEs untuk LIBs terutama berfokus pada konduktivitas ion tinggi. Banyak riset mempelajari SPEs berbasis poli(etilena oksida) (PEO) dan turunannya, diketahui sebagai representatif yang tipikal terhadap matriks polimer SPEs, dikarenakan kemampuannya untuk melarutkan garam litium dan fleksibilitas segmen yang tinggi dalam transport ion di dalam fasa amorf. Akan tetapi, penggunaan elektrolit berbasis PEO murni dibatasi oleh konduktivitas ion yang rendah (10^-8 - 10^-7 S cm^-1) karena kecenderungan mengalami kristalisasi pada suhu di bawah 65 derajat Celsius. Modifikasi struktur PEO menggunakan metode cross-linking dan co-polimerization (block atau graft copolymer), seperti menambangkan gugus polar (akrilonitril, uretan, amida, maleat anhidrat) ke dalam matriks PEO, merupakan strategi yang umum untuk menekan kristalisasi PEO. Maleat anhidrat ditambahkan ke dalam elektrolit berbasis PEO sebagai gugus polar untuk membentuk elektrolit polimer padatan berbentuk seperti sisir (comb-like) dengan konduktivitas ion ~10^-4 S cm^-1 pada suhu 90 derajat Celcius, menunjukkan bahwa jenis elektrolit polimer ini dapat digunakan pada suhu tinggi. Namun, gerakan segmen EO dihalangi oleh gaya Van der Waals antara segemn EO dan unit polar, yang tidak baik dalam menurunkan kristalisasi segmen EO. Oleh karena itu, unit non-polar yang besar, seperti rantai hidrokarbon, diharapkan memperlemah gaya Van der Waals dan memecah keteraturan rantai EO. Unit non-polar yang besar dapat meningkatkan volume bebas unit EO, meningkatkan pergerakan segmen EO yang menyediakan ruang (saluran) untuk transportasi ion litium dan pada gilirannya meningkatkan konduktivitas ion elektrolit polimer. 

Hal yang sangat penting berkaitan dengan SPEs, adalah faktor yang mempengaruhi kinerja elektrokimia dari LIBs adalah lemahnya hubungan antar-muka elektroda/elektrolit. Karena antar-muka elektroda/elektrolit merupakan hubungan padatan/padatan non-fluida (tidak mengalir), yakni SPEs tidak dapat sepenuhnya meresap material elektroda, seperti elektrolit cair, sehingga penurunan siklus elektrokimia dalam LIBs padatan menjadi jelas. Usaha-usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi kestabilan antar-muka, antara lain penambahan atau grafting sejumlah besar serbuk keramik (SiO2, AL2O3, ZnO, CeO, ZnAl2O4 ke dalam SPEs.  Namun, kemampuan laju dan kinerja siklus jangka panjang dari LIBs tidak  dapat ditingkatkan karena keterbatasan intrinsik dari hubungan padatan/padatan non-fluida masih tersisa. Oleh karena itu, memperbaiki penampilan fisik SPEs menjadi lebih elastis atau lebih kental untuk mempertahankan hubungan yang seragam dengan permukaan elektoda, menjadi cara yang lebih efektif untuk memperoleh antar-muka yang efektif dan stabil antara elektrolit dan elektroda untuk mencapai kemampuan laju yang meningkat dan meningkat kinerja siklus secara berkelanjutan.

Terinspirasi dari konsep ini, dikembangkan suatu membran elektrolit komposit (CEM) dengan menggabungkan kopolimer kental dengan selulosa untuk aplikasi baterai ion litium berkinerja tinggi. Kopolimer PEGMEM-co-SMA yang kental yang secara khusus didisain dengan menggabungkan bagian sekunder, SMA, dengan gugus non-polar bulki dan C18, yang dapat menekan kecenderungan pengkristalan melalui pembuatan defect pada fasa kritalisasi PEO dan mempercepat pergerakan segmen EO. Pada suhu di atas titik leleh (31,98 - 35.71 derajat Celsius), kopolimer PEGMEM-co-SMA menampilkan keadaan aliran kental yang menguntungkan untuk mempertanhankan hubungan antar-muka dengan elektroda, seperti halnya pada elektrolit cairan. Dalam memastikan kestabilan demensional dari kopolimer untuk memisahkan katoda dari anoda, berbagai macam matriks selulosa digunakan untuk meningkatkan sifat mekanik dari polimer. Dalam penelitian ini lembaran selulosa NKK TF40 dipilih untuk ditambahkan pada kopolimer PEGMEM-co-SMA dan LiTFSI untuk membentuk membran elektrolit komposit kopolimer/selulosa kental. Hasil peneltian menunjukkan membran elektrolit komposit tidak hanya menunjukkan kestabilan termal yang tinggi dan kondukstivitas ion yang baik, tetapi juga memberikan hubungan antar-muka yang sempurna terhadap elektroda litium dan kinerja siklik yang baik dan LIBs. 







Sabtu, 12 November 2016

Membran Elektrolit Polimer

Adalah benar bahwa keterampilan yang terutama dimiliki dan harus ditekuni oleh seorang akademis adalah menulis. Literasi menulis tentunya didukung oleh kemampuan untuk berpikir (thinking skill) dan dimodali oleh pengalaman membaca.

Saya sebagai mahasiswa doktor (postgraduate student) yang sedang menekuni bidang penelitian Kimia Material untuk aplikasi storage devices mengisi hari-hari dengan membaca artikel-artikel yang telah dipublish dalam rangka mendukung penelitian untuk disertasi, sehingga diharapkan dapat mengeluarkan karya berupa artikel ilmiah yang berhubungan dengan penelitian. Di samping untuk tujuan menyumbangkan pengetahuan untuk khasanah keilmuan, khususnya ilmu Kimia, saya juga memiliki keinginan untuk memanfaatkan keterampilan yang saya miliki dari pengalaman membaca, meneliti dan meneliti untuk pengabdian kepada masyaakat.

Berikut, saya ingin membagikan beberapa hasil studi yang dilakukan oleh Ilmuwan di belahan dunia, yang dikemas dalam bentuk summary berhubungan dengan Membran Elektrolit Polimer (Polymer Electrolyte Membrane).

1. Preparation of Hydrophilic Polyethylene/Methylcellulose blend Microporous Membranes for Separator of Lithium-ion Batteries (oleh Haiyang Liao dari School of Materials and Energy, Guangdong University, China)

Pembuatan Membran Berpori Mikro dari Blend antara Polietilena/Metil Selulosa Hidrofil untuk Separator Baterai Ion Litium

Membran berpori mikro dari blend Polietilena hidrofil dengan kerapatan besar dan metil selulosa dibuat melalui proses separasi fasa terinduksi secara panas. Pengaruh dari MC terhadap membran HDPE diinvestigasi melalui pengujian morfologi dan penentuan diagram fasa, hidrofilisitas, kristalinitas dan sifat mekanik. Demikian pula, sifat elektrokimianya dievaluasi dengan sel baterai kecil (watch batteries) dengan membandingkan membran HDPE murni dan membran berpori mikro blend HDPE/MC sebagai separator yang ditambahkan garam LiPF6. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa titik awan meningkan dan morfologi permukaan dari membran berubah dari rapat menjadi berpori, dengan penambahan massa MC. Membran blend juga memiliki serapan elektrik yang lebih tinggi dibandingkan membran HDPE murni. Bahkan, konduktivitas ion maksimum (1,01 x 10^-3 S/cm) dan energi aktivasi minimum (Ea) 10,48 kJ/mol diperoleh ketika massa MC 2%. Selanjutnya, jika dibandingkan dengan membran HDPE murni, sel baterai (button cell) yang terdiri dari membran berpori mikro blend HDPE/MC menghasikan kapasitas pemakaian dan pengosongan yang lebih besar dan kinerja pemakaian lebih baik dalam kerapatan arus yang beragam.

Poin utama : peran MC

Penggunaan membran dalam baterai ion litium sangat bergantung pada konduktivitas ion.
Kondukstivitas ion berpengaruh signifikan terhadap kinerja elektrokimia baterai. Konduktivitas ion bertambah seiring penambahan massa MC hingga 2% dan mengalami penurunan setelah kondisi tersebut. Konduktivitas ini berbeda-beda sesuai jumlah pembawa ion dan mobilitasnya, yang keduanya bergantungpada daerah amorf. Konduktivitas membran dapat ditingkatkan dengan meningkatkan daerah amorf. Masuknya MC dapat meningkatkan daerah amorf dan pada gilirannya mengaktifkan fraksi yang luas untuk mobilitas pembawa ion.

Pergerakan ion Li+ dipelajari melalui transfer number  (t+), suatu parameter dalam menjelaskan baterai ion litium yang dapat diisi ulang. Pengaruh penambahan MC adalah dihubungkan dengan ikatan hidrogen yang dapat dengan mudah terbentuk antara gugus hidroksil MC dan atom fluor dari PF6; ikatan hidrogen ini menghalangi gerakan anion tetapi memfasilitasi gerakan ion Li+.

2. Konduktor-konduktor Ion Tunggal Berbahan Poly(aryne ether) untuk Baterai Li-ion

Penulis:
1.    Hykkeun Oh dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
2.    Kui Xu dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
3.    Dae Soo Kim dari Departemen Teknik Kimia dan Biologi, Univeristas Nasional Seoul, Korea
4.    Chalathorn Chanthad dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
5.    Guang Yang dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
6.    Jiezhu Jin dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
7.    Ismail Alperen Ayhan dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
8.    Seung M. Oh dari Departemen Teknik Kimia dan Biologi, Univeristas Nasional Seoul, Korea
9.    Chalathorn Chanthad dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat
10.  Qing Wang dari Departemen Sains dan Teknik Material, Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat


Abstrak
Elektrolit yang mengonduksi ion tunggal (single-ion) merupakan suatu pilihan yang menarik pada konduktor-konduktor garam biner tradisional yang biasa digunkan dalam baterai Li-ion. Secara teoritis dijelaskan bahwa elektrolit ion tunggal yang mengembangkan sistem garam biner, dapat mengurangi gradien konsentrasi dan menghilangkan polarisasi dalam sel, memperbaiki substansi dalam penggunaanya pada daya dan kerapatan energi yang tinggi. Di sini, kami menjelaskan sintesis dan karakterisasi dari suatu kelas elektrolit ion tunggal berbahan dasar poly(arylene ether) dengan litium perfluoroetil sulfonat. Film polimer mikropori dijenuhkan dengan karbonat organik menghasilkan nilai tranfer Li+ mendekati satu, konduktivitas yang sangat tinggi ( > 10-3 pada suhu ruang) pada rentang suhu yang panjang, kestabilan elektrokimia yang baik, dan sifat mekanik yang unggul. Kemampuan siklus yang sempurna mendekati kapasitas charge - discharge   yang telah ditunjukkan pada suhu ruang pada baterai yang terbuat dari konduktor ion tunggal.

Pendahuluan
Baterai Li-ion telah menjadi teknologi pilihan pada perangkat penyimpan energi yang dapat diisi-ulang seperti elektronik portabel, jaringan stasioner dan perangkat hibrida/elektrik. Elektrolit yang mengkonduksi listrik oleh ion-ion di antara elektrode merupakan bagian terintegrasi dalam baterai Li-ion. Hampir semua elektrolit cairan dan polimer yang berlaku pada saat ini, baik sebagai baterai  Li-ion prototipe maupun komersil merupakan konduktor garam biner di mana baik ion litium maupun counter-anionnya bermigrasi di antara elektrode-elektrode selama proses pengisi dan pemakaian. Konduktivitas garam biner sebenarnya didominasi oleh pergerakan anion, karena anion dari garam memiliki pergerakan yang sangat tinggi dan bergerak 5-10 kali dari ion Li+, tanpa melihat jenis anionnya. Nilai transfer Li+ (tLi+) adalah suatu parameter yang berdimensi untuk mendonasikan fraksi aliran yang dibawa oleh Li-ion untuk transportasi muatan di dalam sel (baterai). Untuk polimer-elektrolit yang terdiri dari garam Li (misalnya, LiXF6, X = P, As, Sb) yang dilarutkan dalam koordinasi polimer, seperti polietilena oksida (PEO), nilai tipikal, tLi+-nya adalah 0,2 – 0,3; yaitu hanya 20-30% konduktivitas terukur yang dikaitkan dengan pergerakan Li+. Akan tetapi, tidak terjadi reaksi elektrode dengan anion. Alhasil, penumpukan anion pada permukaan elektrode/elektrolit menyebabkan polarisasi konsentrasi, yang menyebabkan hilangnya daya tarikan baterai. Oleh karena itu, pergerakan anion harus dikurangi atau secara total dieliminasi, yang dilakukan dengan pengikatan secara kovalen anion pada kerangka polimer untuk membentuk konduktor ion (misalnya ionomer). Dikarenakan ukuran dan sifat dari rantai polimer yang tidak bergerak, hanya kation yang mampu bermigrasi sepanjang interval  di dalam keadaan padatan pada skala waktu yang beralasan, dan satuan tLi+ dapat dicapai dalam konduktor ion tunggal. Keuntungan penggunaan ion tunggal dalam baterai telah lama dikenal secara teoritis, terutama penurunan gradien konsentrasi dan kehilangan polarisasi di dalam sel baterai yang berkembang dalam sistem garam biner, yang menghasilkan perbaikan substansi dalam pemanfaatan material dalam aplikasi daya tinggi dan kerapatan energi. Keuntungan teoritis juga meliputi distribusi anion spasial merata yang memungkinkan bagian dari aliran yang lebih besar yang mengurangi permasalahan termal dan ketiadaan interaksi elektrokimia dari anion dengan elektrode untuk meningkatkan kestabilan. Studi teoritis saat ini telah menyarankan  bahwa elektrolit yang mengonduksi ion tunggal dapat menekan pertumbuhan lithium dendrites, yang diikuti dengan beberapa kerja ekperimen yang mengkonfirmasi kekuatan elektrolit pengkondusi ion tunggal untuk memperpanjang waktu hidup sel baterai yang menggunakan anode logam litium.

Beberapa kelas dari konduktor ion tunggal telah dilaporkan sebelumnya, yang paling sederhana, penelitian ini secara signifikan menekan konduktivitas elektrolit secara keseluruhan. Telah diterima secara luas bahwa konduksi ion dalam polimer-elektrolit berhubungan dengan sangat erat dengan gerakan segmen lokal dan dengan fenomena transisi polimer. Konsekuensinya, sebelumnya kebanyakan konduktor ion tunggal bergantung pada suhu transisi gelas (Tg) polimer seperti PEO. Pendekatan ini hanya sebatas peningkatan konduktivitas pada suhu ruang. Hingga sekarang, elektrolit ion tunggal padat yang dilaporkan memiliki konduktivitas dengan rentang 10-7 s.d.  10-5 S cm-1 pada suhu ruang, setingkat lebih rendah  daripada aplikasi praktis. Bahkan, pemanfaatan polimer Tg rendah menurunkan kekuatan mekanik dan kestabilan termal dari membran, sehingga menjadi suatu kelemahan konduktor ion tunggal, karena hal-hal tersebut memiliki peran penting pada separator di antara elektrode. Lebih baru, konduktor ion tunggal yang diturunkan dari kopolimer blok rakitan (self-assembled), yang terdiri dari segmen PEO sebagai blok konduktor ion dan blok polistirena atau polimetakrilat memberikan peningkatan kekuatan mekanik. Nilai konduktivitas 1,3 x 10-5 S cm-1 pada suhu 60 oC telah diperoleh dalam kopolimer tiga blok : polistirena-b-PEO-b-polistirena, di mana litium bis(trifluorometana)sulfon-imida (LiTFSI) tercangkok secara kovalen pada blok polistirena ini. Suatu kelompok konduktor ion tunggal yang terdiri dari blend polimer berbahan poli(etilenimina) telah dilaporkan menunjukkan konduktivitas 4 x 10-4 S cm-1 pada suhu ruang. Kelas lainnya dari konduktor ion tunggal adalah elektrolit polimer gel, yang telah dilaporkan menunjukkan konduktivitas ion 10-6 s.d 10-3 S cm-1 pada suhu ruang. Watanabe melaporkan suatu blend dari garam litium-polimer dan kerangka polieter, yang mencapai konduktivitas ion 10-4 S cm-1 ketika diplastisasi dengan etilena karbonat (EC). Belakangan ini, elektroit polimer gel berbahan polisiloxane, polimer-garam litium (fenilsulfonil)imida, dan polimer garam litium borat telah dilaporkan menghasilkan konduktivitas ion dalam rentang 10-4 s.d 10-3 S cm-1 pada suhu ruang. Sel baterai yang menggunakan polimer-garam litium borat sebagai elektrolit polimer gel diuji dalam bentuk kinerja siklus pada temperatur yang berbeda. Cheng dkk. Membuat elektrolit polimer ion tunggal berpori dari litium poli(4-styrenesulfonyl-(phenylsulfonyl)imida yang mengandung suatu campuran pelarut EC dan propilena karbonat (PC), yang menghasilkan konduktivitas io 6,3 x 10-3 S cm-1 pada suhu ruang.

Pada penelitian ini, kami menjelakan sintesis dan karakterisasi dari konduktor ion tunggal berbasis poli(arilen eter) dengan pendant litium perfluoroetil sulfonat, yang memberikan karakteristik elektrolit padatan dan cairan. Konduktor ion tunggal dicelupkan pada karbonat organik menghasilkan konduktivitas sempurna pada interval suhu luas, yaitu 3,1 dan 0,74 x 10-3 S cm-1 pada 25 dan -20oC, berturut-turut, dan sifat elektrokimia yang baik yang mempertahankan kestabilan mekanik dan termal sebagai separator dan konduktor di antara elektroda dalam sel baterai. Fitur pengonduksi ion tunggal dari membran telah diinvestigasi. Kinerja baterai yang bernilai baik telah ditunjukkan melalui sel yang dirakit dari konduktor ion tunggal pada suhu ruang.
















Jumat, 07 Oktober 2016

Skimming

Skim the following newspaper article. Try to finish in less than 60 seconds. Then answer the questions below.

What is hurting the Environment?
by Faith Silver

Scientists are working hard to clean up our environment. Air pollution is one of the most serious problems they face. They know that a lot of the pollution is caused by people burning fuels such as gasoline, wood and oil.

In many big cities now, the air is gray and dirty. This is caused mostly by gasoline burned in car engines. For every gallon of gasoline that a car burns, a half pound of carbon monoxide goes into the air. This is what makes the air so gray. Scientists and car makers are making changes in car engines. New cars will not put so much carbon monoxide into the air. Then the air will be cleaner, and cities such as Los Angeles and Mexico City will have blue skies again.

But carbon monoxide pollution is only one form of air pollution. Another kind of air pollution that comes from gasoline and other fuels is carbon dioxide. For every gallon and other fuels is carbon dioxide. For every gallon of gasoline a car burns, 5 1/2 pounds of carbon dioxide go into the air. You cannot see carbon dioxide in the air, since it is a clear gas, and you cannot smell it. But the effects of carbon dioxide on the environment are very serious.

Carbon dioxide has made a clear cloud over the earth. This cloud is called "greehouse effect". Like a blanket, this clear cloud has made the earth warmer. As the earth becomes a lot warmer, many things may change. First of all, the weather may change. There may be more violent storms in many parts of the world.  In many places the summers may become hotter and drier. In these places, it may be more difficult to grow food, and that means more people may die of hunger.

What can we do about carbon dioxide pollution? We need to burn fuels to keep warm in the winter, we need to cook, and we need to have transportation. In the past, we did all these things and there was no greenhouse effect. However, in the past there were far fewer people. Now, the number of people in the world is growing every year. So the amount of fuel we burn is growing, too. Scientists say that the earth is in danger from the greenhouse effect. They also say the real problem is not carbon dioxide. The problem is too many people!

1. This article says that carbon monoxide pollution
a. comes from gasoline burned in cars
b. comes from the earth
c. is caused by scientists.

2. Carbon dioxide is a problem because it
a. is a fossil fuel
b. makes the earth warmer
c. is burned by cars.

3. Scientists say the real problem is
a. carbon monoxide
b. the air in Los Angeles and Mexico City
c. too many people in the world

Jumat, 19 Agustus 2016

Stop UN!!!

Pada hari Sabtu yang lalu, tanggal 7 Mei 2016, telah diumumkan secara resmi hasil pelaksanaan UJIAN NASIONAL di SMA Negeri 1 Gunungsitoli, tempat saya mengajar. Sebelum pengumuman yang secara resmi disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 1 Gunungsitoli, di hadapan khalayak orang tua siswa/i, Dewan Guru SMA Negeri 1 Gunungsitoli mengadakan rapat memutuskan kelulusan siswa, berdasarkan 3 kriteria.
Kriteria tersebut antara lain:
1. Telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran
2. Memiliki akhlak mulia yang baik
3. Lulus Ujian Sekolah

Berdasakan ketiga kriteria tsb, maka 303 peserta UN dari sekolah saya dinyatakan lulus. Sedangkan data hasil UN yang tetap menyisakan beberapa siswa dengan kategori kurang, nantinya dihimbau untuk mengikuti UN ulangan, meskipun tidak wajib. Pada tahun ini adalah benar bahwa nilai UN bukan penentu kelulusan siswa, tetapi hanya berupa data untuk pemetaan dan masukan untuk pertimbangan masuk PTN.

Permasalahan adalah apakah UN sebagai dasar untuk pemetaan oleh Pemerintah valid? Mentah-mentah saya pribadi katakan NOL BESAR. Sejak dahulu saya penentang UN dalam bentuk apapun.

Stop UN, hati saya berteriak, kecewa berat dengan kenyataan bahwa Pemerintah sibuk mempertahankan proyek UN ini. Ada apa sebenarnya?

1. UN mengorbankan banyak siswa yang jujur
2. UN syarat kecurangan yang sistemik maupun hidden
3. UN mengkebiri hak guru dan sekolah
4. UN tidak menghargai proses
5. UN tetap saja didewakan, karena masuk ijazah dan pertimbangan PTN.

Sejak diberlakukannya Ujian Nasional menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK), berbagai variasi telah diterapkan yang melibatkan nilai UN. Pernah tahun-tahun tertentu seingat saya, menjadi tahun yang suram, menjadikan nilai UN penentu satu-satunya kelulusan. Sungguh menyedihkan pada saat ini. Empat tahun terakhir ataupun lebih 2013, 2014, 2015 UN disanding dengan Nilai Sekolah, dan dijadikan pertimbangan kelulusan. Tahun 2016 tetap ada Nilai Sekolah, tetapi tidak disanding lagi dengan nilai UN. Nilai UN tahun 2016 dianggap berdiri sendiri, katanya sih tidak menentukan.

Sesungguhnya apa dibalik proyek UN sebenarnya? Sayapun tidak paham, biarkan pemerintah yang tahu. Tetapi yang saya angkat permasalahn di sini adalah pelaksanaan UN tetap saja membuat kepedihan, dan menyisakan duka bagi pihak sekolah.

Beberapa yang jadi fakta ketidakberdayaan sekolah terhadap UN
1. Aura UN tetap saja hitam, karena tarafnya Nasional. Sepandai-pandainya Pemerintah  mengkampanyekan UN jujur, hasilnya nol besar. Sekolah sendiri jujur, tetapi tidak mampu menghempang peredaran kunci jawaban yang secara hidden tersebar di kalangan pelajar. Sulit untuk membuktikannya. Sungguh sulit. Konyol saja Pengawas, yang notabene Guru menelanjangi siswa untuk buktinkan dia jujur. tidak masuk akal, bukan?
2. Data nilai UN, sangat dan sangat mengejutkan. SUMPAH. Saya bisa mati berdiri jika memikirkannya. Sungguh dunia bagi saya terbalik, melihat kenyataan Siswa yang dalam kesehariannya tidak mampu, dan jujur bukan menghakimi, tetapi dalam kata halusnya belum mampu untuk menempuh Ujian bertaraf Nasional, dibuktikan dengan nilai-nilai dan motivasi belajar yang sunggu rendah, justru memiliki nilai maksimal. Sedikit???? Jangan salah BANYAKKKKKK. Siswa/i yang jujur jadi korban, siwa juara olimpiade bidang tertentu standar nilainya, tetapi siswa yang hampa kosong dalam respon belajar maksimal nilainya 100 (SERATUS).
JUJUR hampir setiap tahun ini terjadi, di SMA Negeri 1 Gunungsitoli, Pulau Nias.

Pemerintah salah... Pemerintah, saya bantu ya kasi solusi
1. UN dihentikan saja.
2. Program yang berkualitas, dengan pengadaan Guru terbaik, jauh melebihi proyek UN
3. Yakinkan sekolah bahwa mereka jujur, dan biarkan sekolah yang menentukan nilai kelulusan siswa/i yang dijumpainya. Maka yakinlah siswa berada pada porsinya. Representatif.
4. Kualitas sekolah yang dipetakan. Setiap sekolah ditetapkan standar nilai minimumnya, dan biarkan masing-masing menilai sesuai dengan apa yang sudah dicapai.

Berikut ini artikel berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional di berbagai negara.

Tiap tahunnya, selalu saja ada kontroversi mengenai penyelenggaraan UN ini. Tahun lalu misalnya, penyelenggaraan UN di tingkat SMA marak dengan isu korupsi. Meskipun banyak yang menentang penyelenggaraan UN, pemerintah tetap saja melaksanannya.

Namun, tak adakah sistem lain selain UN? Berikut ini tim Whatanews mengumpulkan beberapa sistem pengujian yang digunakan beberapa negara lain di dunia yang disadur dari situs Pctkj.id-fb.com.

Di Finlandia, negara yang memiliki sistem pendidikan paling bagus di dunia, tidak ada ujian nasional. Guru menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi muridnya. Guru, profesi yang paling terhormat di negeri itu, memberi laporan akhir tiap semester kepada siswanya. Laporan itu berisi sifat personal murid-muridnya, berbeda dengan sistem ‘ranking’ yang selama ini kita kenal di Indonesia. Para guru di Finlandia percaya bahwa tiap anak itu unik dan berbeda sehingga mereka sangat menghargai muridnya.

Ujian Nasional juga tidak dikenal di sistem pendidikan di Amerika. Ujian hanya diadakan di tingkat negara bagian. Meskipun demikian, sekolah tidak diwajibkan untuk ikut di ujian ini. Sebagai negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi, sekolah diberikan kebebasan penuh untuk menentukan materi ujian di tempat mereka masing-masing. Kalau begitu, bagaimana caranya agar lulusan SMA bisa masuk ke universitas?

Mudah saja, lulusan SMA atau sederajat di Amerika cukup mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Jadi kualitias mereka benar-benar diuji ketika mereka mau masuk perguruan tinggi. Tidak ada nilai yang ‘dikatrol’ oleh sekolah atau guru mereka.

Menurut Linda Hammond, seorang pakar pendidikan dari Columbia University di New York, nasionalisasi ujian sekolah hanya akan membuat guru menjadi tidak kreatif. Sekolah jadi tidak bisa menciptakan situasi belajar yang sesuai dengan kondisi social, ekonomi, budaya dan teknologi mereka.

Berbeda dengan Finlandia dan Amerika Serikat, Inggris mengenal sistem ujian nasional. Hanya saja, ujian nasional di Inggris berbeda dengan yang ada di Indonesia. Tidak ada siswa yang dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional di Inggris.

Semuanya lulus, ya itu benar. Yang membedakan nantinya tentu saja adalah tinggi rendah nilai yang diperoleh setiap siswa. Nilai inilah yang digunakan untuk masuk ke universitas-universitas di Inggirs. Tiap universitas tentunya sudah memiliki standard sehingga misalnya, siswa yang ingin masuk ke Universitas Cambridge harus belajar secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai bagus menurut standard kampus itu.

Selain tiga negara maju itu, masih banyak negara lain yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dan lebih tidak menimbulkan stress pada siswanya seperti yang terjadi di Indonesia ini. Semoga saja, kedepannya pemerintahan yang baru akan bisa menciptakan sistem pendidikan yang jauh lebih baik dari yang ada sekarang ini.


Kamis, 28 April 2016

Peran Faktor Kesiapan Terhadap Hasil Belajar

Berhasil tidaknya pembelajaran dibuktikan dengan data ketuntasan klasikal kelas tersebut. Semakin besar ketuntasan klasikal, maka semakin terbukti suatu pembelajaran dengan metode yang dipakai berhasil. Kriteria ketuntasan minimum (KKM) diperoleh dari intake siswa, daya dukung dan kompleksitas. Metode pembelajaran merupakan salah satu butir dari daya dukung yang mampu mempengaruhi dua factor yang lainnya yaitu intake siswa dan kompleksitas. Keberhasilan suatu metode pembelajaran dibuktikan dari daya serap siswa meskipun kompleksitas semakin tinggi.
Pembelajaran siswa aktif yang hingga kini dianut oleh system pendidikan Indonesia, masih mengalami banyak kendala. Pelaksanaan metode-metode pembelajaran yang mengharapkan hasil belajar yang baik, justru sulit terbukti. Bahkan metode-metode pembelajaran yang mutakhir yang menggunakan teknologi canggih, tidak serta merta ampuh meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Salah satu factor yang tidak dapat diabaikan adalah karakteristik dari materi ajar maupun mata pelajaran. Masing-masing mata pelajaran mempunyai kompleksitas yang berbeda-beda, semisal mata pelajaran ilmu social yang membutuhkan metode belajar kooperatif sudah ampuh untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sedangkan matab pelajaran eksakta (sains) dibutuhkan multi metode untuk meningkatkan hasil belajar siswanya tersebut.
Selain itu, karakteristik siswa juga perlu diperhatikan. Pengetahuan dasar siswa yang berbeda-beda, khususnya di kelas-kelas yang majemuk, memberikan permasalahan yang tidak dapat diabaikan. Pengalaman yang dialami oleh kebanyakan guru (eksakta), ternyata banyak sekali siswa ditemukan tidak mampu menyelesaikan operasi matematik yang sangat mendasar, padahal justru tuntutan kurikulum semakin meningkat.
Untuk mengatasi kesulitan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, maka guru harus dapat menggunakan dan memperhatikan prinsip-prinsipa belajar, dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Pemahaman dan perhatian yang sungguh-sungguh akan pemecahan kesulitan yang dialami, dapat membantu guru dalam merencanakan dan mengelola kegiatan pembelajaran yang maksimal. Guru diharuskan mampu merancang dan menciptakan kondisi kelas yang kondusif, memperhatikan kesesuaian kondisi siswa saat proses belajar mengajar berlangsung.

Hasil belajar dipengaruhi oleh kesiapan belajar, motivasi belajar dan pengulangan materi pelajaran sesuai dengan pendapat Darsono (2000:26) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Kalau hal-hal tersebut diabaikan, dapat dipastikan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Prinsip-prinsip belajar meliputi: kesiapan belajar; perhatian; motivasi; keaktifan siswa; mengalami sendiri; pengulangan; materi pelajaran yang menantang; balikan dan penguatan; serta perbedaan individual.

Faktor kesiapan belajar dalam diri seorang peserta didik dalam rangka perolehan pengetahuan maupun pengembangan serta pengaplikasiannya, merupakan start yang paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran pada subjek (materi ajar) tertentu. Faktor kesiapan, menurut hemat penulis maupun pengalaman beberapa rekan, bersesuaian dengan semua teknik maupun metode yang diterapkan dalam pembelajaran. Subjek ataupun metode apapun, jika tidak diperkuat dengan kesialan diri peserta didik, maka kemaksimalan yang diharapkan tidak akan kunjung pula. Faktor kesiapan dapat digeneralisasikan sebagai faktor dari dalam peserta didik, baik berupa motivasi maupun bakat yang dimiliki oleh mereka. Faktor kesiapan dalam hal ini merupakan ranah afektif yang mampu mendongkrak pengembangan pengetahuan.

Tampak sederhana, tetapi dalam pelaksanaannya, peran guru terhadap faktor kesiapan peserta didik dalam pembelajaran sangat besar. Guru harus mampu secara terstruktur mendisain teknik maupun metode berkenaan dengan penguatan kesiapan diri peserta didik. Disain pembelajaran dalam hal ini, merupakan kemasan yang padu dan konsisten menjangkau perkembangan hasil belajar peserta didik. Sebenarnya secara tidak langsung guru telah berupaya menyarankan peserta didik dalam mengerjakan tugas mandirinya, kelompok baik di sekolah maupun di rumah. Tugas-tugas seperti itu merupakan bentuk dari disain yg dimaksud. Permasalahannya adalah ketidakkonsistenan, disebabkan oleh tidak adanya perencanaan yg jelas (RPP) dalam hal metode, media dan alat evaluasi yg mendukung terjangkaunya perkembangan hasil belajar peserta didik.

Peda artikel ini, beberapa saran untuk masukan disain pembelajaran berbasis kesiapan siswa.
1. Pembelajaran disarankan multimetode, multiteknik serta multimedia untuk menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna.
2. Metode pembelajaran langsung masih menjadi basis, mengingat intake peserta didik yang beragam
3. Teknik pengambilan kesimpulan diupayakan semaksimal mungki  menggunakan teknik mencatat peta pikiran, yang seterusnya disempurnakan hingga sempurna di akhir materi pokok.
4. Pemberian tugas mandiri di rumah dan ditagih pada pertemuan berikutnya. Prinsip pemberian tugas, jangan terlalu banyak, sehingga dapat dijangkau.
5. Pemberian kuis sebagai bentuk tagihan kesiapan siswa setiap pertemuan dengan kompleksitas yang diatur disesuaikan dengan waktu, sehingga tidak mengganggu waktu untuk materi selanjutnya.
6. Pemberian tugas terstruktur, dimulai dari yang sederhana hingga kompleks, dapat diselesaikan secara kelompok.

Berikut ini diberikan contoh tahapan penggunaan metode pembelajaran langsung berbasis faktor kesiapan. Pada contoh ini, dianggap silabus dan RPP telah disiapkan sebelumnya.
1. Apersepsi : memberi salam hangat, mencek daftar hadir siswa, menyiapkan sarana dan media  untuk dipergunakan dalam pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
- mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, misalnya peta pikiran garis besar pembelajaran. Ctt. pertemuan sebelumnya siswa diberikan tugas membuat peta pikiran a.l judul materi pokok, sub materi pokok (cek kesiapan dan motivasi belajar)- peta pikiran ini ke depan akan disempurnakan hingga berakhirnya materi pokok. Peta pikiran yang dihasilkan harus padu, informatif, ringkas dan menarik. Setiap tahapan penyelesaian tiap pertemuan, Guru memberikan komentar, dan memaraf hasil peta pikiran siswa tersebut.
- mengadakan kuis singkat berupa 2 soal essay yang singkat yang pengerjaannya 5-6 menit. Dibahas dan dinilai bersama. Nilai didokumentasikan dan dijadikan pertimbangan nilai untuk portofolio. Tingkat kesukaran soal rendah-sedang.
- Guru melanjutkan pembelajaran, menggunakan media presentasi maupun media lainnya yang dapat menarik perhatian siswa. Guru menjelaskan dengan suara yang nyaring sehingga mampu memenuhi ruangan belajar mereka.
- Guru memberikan contoh soal perhitungan dimulai dengan tingkat kesukaran yang rendah hingga yang kompleks. Kesukaran rendah misalnya berupa penggunaan data dari soal untuk disubstitusikan saja pada rumus persamaan matematis yang ada. Tingkat kesukaran yang rendah misalnya menghubungkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, semisal persamaan reaksi dan penyetaraannya, dan menghubungkan dengan penggunaan persamaan matematis yang ada. Tingkat kesukaran yang tinggi misalnya melibatkan grafik dan membacanya, dari pembacaan grafik diperoleh data secara tidak langsung, kemudian baru bisa digunakan setelah data dinterpretasi terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan persamaan matematis yang ada.

3. Kegiatan Penutup
- Guru mengingatkan kembali untuk melengkapi informasi pada peta pikiran yang mereka miliki, dengan menambahkan informasi dari pembelajaran pada pertemuan hari ini.
- Guru memberikan tugas dengan kategori sedang untuk dikerjakan di rumah ataupun bersama kelompok.
- Guru mengingatkan akan mengadakan kuis berhubungan dengan materi pelajaran yang diterima hari ini.

Senin, 07 Maret 2016

Mind Map Hukum-Hukum Dasar Kimia

Kesulitan belajar siswa terutama terletak pada ketidakmampuannya dalam menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan yang akan dimilikinya pada materi berikutnya.

Pendekatan konstruksional melalui peta pikiran (mind mapping) seharusnya dapat menjadi solusi dalam kasus ini.

Berikut saya lampirkan contoh peta pikiran untuk materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia.

Jumat, 01 Januari 2016

Motivasi Mengikuti DOGMIT


Motivasi Mengikuti Diklat Online Guru Melek IT:
Sebuah Tuntutan Profesi Guru Abad XXI

Oleh:

Sun Theo Constan Lotebulo Ndruru, S.Pd., M.Si.
SMA Negeri 1 Gunungsitoli – P. Nias, Sumatera Utara


Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008, tentang Guru dan Dosen, maka disebutkan bahwa Guru adalah pendidik yang profesional, yang selanjutkan disebut sebagai Profesi Guru. Dalam undang-undng tersebut, dijelaskan bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujun pendidikan nasional (Bab IV Bagian kesatu UU No 20 tahun 2003). Hal ini berarti, Negara menempatkan Profesi Guru sebagai bagian yang strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan yang terintegrasi dalam penyiapan sumber daya manusia Indonesia, sehingga dapat mewujudkan amanah UUD yang termaktub dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, alinea keempat, yaiu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berkenaan dengan profesi Guru, tuntutan terhadap kompetensi guru seperti yang diatur dalam Undang-undang semakin menjadi perhatian. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Dari penjelasan ini, dapat dikatakan bahwa profesi Guru adalah profesi yang memiliki standar yang jelas, karena diatur dalam Undang-undang.  Selain ini pemberian tunjangan sertifikasi adalah bukti kesungguhan dan kepedulian Negara terhadap Profesi Guru. Akan tetapi, sudahkan pemberian tunjangan sertifikasi ini, signifikan  terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berperan sebagai agen pembelajaran, yakni Guru?

Sebagai guru di era abad XII (era digital/ melek IT), guru dituntut mampu beradaptasi, bahkan bisa menjadi pionir dalam memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam segala aspek kehidupan sekarang ini. Ini berarti guru harus mampu mengembangkan kompetensinya melalui pemanfaatan teknologi (TIK) dalam menjalankan profesinya. Berlakunya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional Guru dan Angka Kreditnya, mewajibkan Guru untuk melaksanakakan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan, antara lain melalui pengembangan diri, publikasi ilmiah dan menghasilkan karya-karya yang inovatif. Peraturan baru ini menurut hemat penulis, dilatarbelakangi oleh kebutuhan "pasar" di era sekarang, di mana dibutuhkan motivasi yang mendukung nilai daya saing suatu bangsa, khususnya di bidang pendidikan.

Di beberapa daerah, pemberlakuan Permenpan ini dianggap sangat sulit. Banyak guru-guru yang belum siap, dengan alibi keterbatasan, antara lain tidak terakomodirnya pelaksanaan pelatihan-pelatihan fungsional untuk pengembangan diri. Keterbatasan ini juga bukan tidak beralasan. Penulis sendiri mengalami hal tersebut, keinginan untuk mengikuti diklat tidak dapat terwujud diakibatkan tidak tersedianya kegiatan-kegiatan tersebut. Seandainya kegiatan-kegiatan tersebut ada dan intensitasnya banyak, tentunya guru terbantu. Jika hal ini tidak dievaluasi oleh Pemerintah, maka akan terjadi "kemacetan" dalam pelaksanaannya sesuai amanah Undang-undang.

Akan tetapi perlu diingat, jika seorang Guru hanya berharap dari Pemerintah, untuk memfasilitasi pengadaan diklat-diklat tatap muka, maka guru tentunya tidak akan bisa maksimal menjalankan profesinya. Seorang guru harus mampu memiliki inisiatif sendiri dalam peningkatan kompetensinya, mencari sendiri informasi-informasi untuk menembus keterbatasan-keterbatasan tersebut, antara lain mendekatkan diri pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi. Pemanfaatan teknologi dapat dilakukan melalui diskusi-diskusi pada forum-forum ilmiah, dan dan sekarang yang paling popular adalah dengan mengikuti diklat online.

Diklat online merupakan diklat yang dalam pelaksanaanya dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, sehingga dapat berjalan 24 jam nonstop. Jika dibandingkan dngan diklat "konvensioal" melalui tatap muka yang tidak dapat menyentuh seluruh guru, maka diklat online justru efektif dan efisien dalam pelaksanaanya. Salah satu diklat online adalag DOGMIT oleh Pak Sukani, sebagai Narasumber-nya. DOGMIT adalah singkatan dari Diklat Online Guru Melek IT, yang sangat membantu
guru-guru Indonesia agar melek IT dan memanfaatkan IT dalam pembelajarannya. Untuk lebih mendekatkan dan memperkenalkan apa itu DOGMIT, berikut saya cantumkan tujuan, sasaran, harapan dan program poko dari DOGMIT.

DOGMIT
Tujuan:
DIklat online guru melek IT pola 12 hari bertujuan untuk:
1. memfasilitasi peningkatan kompetensi guru, khusunya terkait pemanfaatan IT dalam pembelajaran melalui sistem pembelajaran jarak jauh dengan DiklatOnline secara nyata.
2.    mensosialisasikan pemanfaatan teknologi e-training atau diklat online sebagai salah satu sarana untuk memperluas upaya peningkatan kompetensi guru.
3.    memfasilitasi guru dalam rangka pengembangan keprofesionalan berkelanjutan (PKB).

Sasaran : guru-guru TK, SD, SMP, SMA, SMK atau sederajad, praktisi maupun pengawas di bidang
pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1.       Dikuasainya materi, konsep, struktur dan pola pikir keilmuan khsususnya pemanfaatan IT dalam pembelajaran untuk mendukung tugasnya sebagai guru.
2.       Tersosialisasikannya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi khususnya e-training (diklat online) sebagai salah satu sarana peningkatan kompetensi guru.
3.       Guru lebih termotivasi untuk mengembangkan diri.

Program pokok : mengelola dan memanfaatkan Whiteboard Animation.

Motivasi
Berhubungan dengan kebutuhan era abad XXI, era digital, era melek IT, tuntutan keprofesionalan guru, dan juga hakikat pendidikan agar lebih baik, sudah seharusnya menjadi motivasi Guru dalam mengikuti diklat online ini. Saya secara pribadi sebagai penulis, mengharapkan dapat menghasilkan media-media pembelajaran yang menarik dan harapan ke depan dengan pengetahuan yang dimiliki dari diklat ini dapat dimanfaatkan dalam menghasilkan model-model pembelajaran berbasis web (online maupun offline) yang dapat diakses siapapun itu.
Kegiatan ini berdurasi 12 hari, untuk saya sebagai angkatan 30 dimulai pada tanggal 28 Desember 2015 sampai dengan 8 Januari 2016. Semoga kegiatan ini dapat saya ikuti dengan baik dan lancar tanpa ada gangguan yang serius, sehingga saya dapat menghasilkan karya yang dapat saya manfaatkan untuk pembelajaran yang menarik, karena Guru adalah agen pembelajaran itu sendiri.

Dan tidak lupa saya juga ucapkan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2016 kepada kita semua. Tuhan memberkati. Amin.

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...