Kamis, 28 April 2016

Peran Faktor Kesiapan Terhadap Hasil Belajar

Berhasil tidaknya pembelajaran dibuktikan dengan data ketuntasan klasikal kelas tersebut. Semakin besar ketuntasan klasikal, maka semakin terbukti suatu pembelajaran dengan metode yang dipakai berhasil. Kriteria ketuntasan minimum (KKM) diperoleh dari intake siswa, daya dukung dan kompleksitas. Metode pembelajaran merupakan salah satu butir dari daya dukung yang mampu mempengaruhi dua factor yang lainnya yaitu intake siswa dan kompleksitas. Keberhasilan suatu metode pembelajaran dibuktikan dari daya serap siswa meskipun kompleksitas semakin tinggi.
Pembelajaran siswa aktif yang hingga kini dianut oleh system pendidikan Indonesia, masih mengalami banyak kendala. Pelaksanaan metode-metode pembelajaran yang mengharapkan hasil belajar yang baik, justru sulit terbukti. Bahkan metode-metode pembelajaran yang mutakhir yang menggunakan teknologi canggih, tidak serta merta ampuh meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Salah satu factor yang tidak dapat diabaikan adalah karakteristik dari materi ajar maupun mata pelajaran. Masing-masing mata pelajaran mempunyai kompleksitas yang berbeda-beda, semisal mata pelajaran ilmu social yang membutuhkan metode belajar kooperatif sudah ampuh untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sedangkan matab pelajaran eksakta (sains) dibutuhkan multi metode untuk meningkatkan hasil belajar siswanya tersebut.
Selain itu, karakteristik siswa juga perlu diperhatikan. Pengetahuan dasar siswa yang berbeda-beda, khususnya di kelas-kelas yang majemuk, memberikan permasalahan yang tidak dapat diabaikan. Pengalaman yang dialami oleh kebanyakan guru (eksakta), ternyata banyak sekali siswa ditemukan tidak mampu menyelesaikan operasi matematik yang sangat mendasar, padahal justru tuntutan kurikulum semakin meningkat.
Untuk mengatasi kesulitan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, maka guru harus dapat menggunakan dan memperhatikan prinsip-prinsipa belajar, dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Pemahaman dan perhatian yang sungguh-sungguh akan pemecahan kesulitan yang dialami, dapat membantu guru dalam merencanakan dan mengelola kegiatan pembelajaran yang maksimal. Guru diharuskan mampu merancang dan menciptakan kondisi kelas yang kondusif, memperhatikan kesesuaian kondisi siswa saat proses belajar mengajar berlangsung.

Hasil belajar dipengaruhi oleh kesiapan belajar, motivasi belajar dan pengulangan materi pelajaran sesuai dengan pendapat Darsono (2000:26) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Kalau hal-hal tersebut diabaikan, dapat dipastikan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Prinsip-prinsip belajar meliputi: kesiapan belajar; perhatian; motivasi; keaktifan siswa; mengalami sendiri; pengulangan; materi pelajaran yang menantang; balikan dan penguatan; serta perbedaan individual.

Faktor kesiapan belajar dalam diri seorang peserta didik dalam rangka perolehan pengetahuan maupun pengembangan serta pengaplikasiannya, merupakan start yang paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran pada subjek (materi ajar) tertentu. Faktor kesiapan, menurut hemat penulis maupun pengalaman beberapa rekan, bersesuaian dengan semua teknik maupun metode yang diterapkan dalam pembelajaran. Subjek ataupun metode apapun, jika tidak diperkuat dengan kesialan diri peserta didik, maka kemaksimalan yang diharapkan tidak akan kunjung pula. Faktor kesiapan dapat digeneralisasikan sebagai faktor dari dalam peserta didik, baik berupa motivasi maupun bakat yang dimiliki oleh mereka. Faktor kesiapan dalam hal ini merupakan ranah afektif yang mampu mendongkrak pengembangan pengetahuan.

Tampak sederhana, tetapi dalam pelaksanaannya, peran guru terhadap faktor kesiapan peserta didik dalam pembelajaran sangat besar. Guru harus mampu secara terstruktur mendisain teknik maupun metode berkenaan dengan penguatan kesiapan diri peserta didik. Disain pembelajaran dalam hal ini, merupakan kemasan yang padu dan konsisten menjangkau perkembangan hasil belajar peserta didik. Sebenarnya secara tidak langsung guru telah berupaya menyarankan peserta didik dalam mengerjakan tugas mandirinya, kelompok baik di sekolah maupun di rumah. Tugas-tugas seperti itu merupakan bentuk dari disain yg dimaksud. Permasalahannya adalah ketidakkonsistenan, disebabkan oleh tidak adanya perencanaan yg jelas (RPP) dalam hal metode, media dan alat evaluasi yg mendukung terjangkaunya perkembangan hasil belajar peserta didik.

Peda artikel ini, beberapa saran untuk masukan disain pembelajaran berbasis kesiapan siswa.
1. Pembelajaran disarankan multimetode, multiteknik serta multimedia untuk menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna.
2. Metode pembelajaran langsung masih menjadi basis, mengingat intake peserta didik yang beragam
3. Teknik pengambilan kesimpulan diupayakan semaksimal mungki  menggunakan teknik mencatat peta pikiran, yang seterusnya disempurnakan hingga sempurna di akhir materi pokok.
4. Pemberian tugas mandiri di rumah dan ditagih pada pertemuan berikutnya. Prinsip pemberian tugas, jangan terlalu banyak, sehingga dapat dijangkau.
5. Pemberian kuis sebagai bentuk tagihan kesiapan siswa setiap pertemuan dengan kompleksitas yang diatur disesuaikan dengan waktu, sehingga tidak mengganggu waktu untuk materi selanjutnya.
6. Pemberian tugas terstruktur, dimulai dari yang sederhana hingga kompleks, dapat diselesaikan secara kelompok.

Berikut ini diberikan contoh tahapan penggunaan metode pembelajaran langsung berbasis faktor kesiapan. Pada contoh ini, dianggap silabus dan RPP telah disiapkan sebelumnya.
1. Apersepsi : memberi salam hangat, mencek daftar hadir siswa, menyiapkan sarana dan media  untuk dipergunakan dalam pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
- mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, misalnya peta pikiran garis besar pembelajaran. Ctt. pertemuan sebelumnya siswa diberikan tugas membuat peta pikiran a.l judul materi pokok, sub materi pokok (cek kesiapan dan motivasi belajar)- peta pikiran ini ke depan akan disempurnakan hingga berakhirnya materi pokok. Peta pikiran yang dihasilkan harus padu, informatif, ringkas dan menarik. Setiap tahapan penyelesaian tiap pertemuan, Guru memberikan komentar, dan memaraf hasil peta pikiran siswa tersebut.
- mengadakan kuis singkat berupa 2 soal essay yang singkat yang pengerjaannya 5-6 menit. Dibahas dan dinilai bersama. Nilai didokumentasikan dan dijadikan pertimbangan nilai untuk portofolio. Tingkat kesukaran soal rendah-sedang.
- Guru melanjutkan pembelajaran, menggunakan media presentasi maupun media lainnya yang dapat menarik perhatian siswa. Guru menjelaskan dengan suara yang nyaring sehingga mampu memenuhi ruangan belajar mereka.
- Guru memberikan contoh soal perhitungan dimulai dengan tingkat kesukaran yang rendah hingga yang kompleks. Kesukaran rendah misalnya berupa penggunaan data dari soal untuk disubstitusikan saja pada rumus persamaan matematis yang ada. Tingkat kesukaran yang rendah misalnya menghubungkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, semisal persamaan reaksi dan penyetaraannya, dan menghubungkan dengan penggunaan persamaan matematis yang ada. Tingkat kesukaran yang tinggi misalnya melibatkan grafik dan membacanya, dari pembacaan grafik diperoleh data secara tidak langsung, kemudian baru bisa digunakan setelah data dinterpretasi terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan persamaan matematis yang ada.

3. Kegiatan Penutup
- Guru mengingatkan kembali untuk melengkapi informasi pada peta pikiran yang mereka miliki, dengan menambahkan informasi dari pembelajaran pada pertemuan hari ini.
- Guru memberikan tugas dengan kategori sedang untuk dikerjakan di rumah ataupun bersama kelompok.
- Guru mengingatkan akan mengadakan kuis berhubungan dengan materi pelajaran yang diterima hari ini.

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...