Jumat, 19 Agustus 2016

Stop UN!!!

Pada hari Sabtu yang lalu, tanggal 7 Mei 2016, telah diumumkan secara resmi hasil pelaksanaan UJIAN NASIONAL di SMA Negeri 1 Gunungsitoli, tempat saya mengajar. Sebelum pengumuman yang secara resmi disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 1 Gunungsitoli, di hadapan khalayak orang tua siswa/i, Dewan Guru SMA Negeri 1 Gunungsitoli mengadakan rapat memutuskan kelulusan siswa, berdasarkan 3 kriteria.
Kriteria tersebut antara lain:
1. Telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran
2. Memiliki akhlak mulia yang baik
3. Lulus Ujian Sekolah

Berdasakan ketiga kriteria tsb, maka 303 peserta UN dari sekolah saya dinyatakan lulus. Sedangkan data hasil UN yang tetap menyisakan beberapa siswa dengan kategori kurang, nantinya dihimbau untuk mengikuti UN ulangan, meskipun tidak wajib. Pada tahun ini adalah benar bahwa nilai UN bukan penentu kelulusan siswa, tetapi hanya berupa data untuk pemetaan dan masukan untuk pertimbangan masuk PTN.

Permasalahan adalah apakah UN sebagai dasar untuk pemetaan oleh Pemerintah valid? Mentah-mentah saya pribadi katakan NOL BESAR. Sejak dahulu saya penentang UN dalam bentuk apapun.

Stop UN, hati saya berteriak, kecewa berat dengan kenyataan bahwa Pemerintah sibuk mempertahankan proyek UN ini. Ada apa sebenarnya?

1. UN mengorbankan banyak siswa yang jujur
2. UN syarat kecurangan yang sistemik maupun hidden
3. UN mengkebiri hak guru dan sekolah
4. UN tidak menghargai proses
5. UN tetap saja didewakan, karena masuk ijazah dan pertimbangan PTN.

Sejak diberlakukannya Ujian Nasional menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK), berbagai variasi telah diterapkan yang melibatkan nilai UN. Pernah tahun-tahun tertentu seingat saya, menjadi tahun yang suram, menjadikan nilai UN penentu satu-satunya kelulusan. Sungguh menyedihkan pada saat ini. Empat tahun terakhir ataupun lebih 2013, 2014, 2015 UN disanding dengan Nilai Sekolah, dan dijadikan pertimbangan kelulusan. Tahun 2016 tetap ada Nilai Sekolah, tetapi tidak disanding lagi dengan nilai UN. Nilai UN tahun 2016 dianggap berdiri sendiri, katanya sih tidak menentukan.

Sesungguhnya apa dibalik proyek UN sebenarnya? Sayapun tidak paham, biarkan pemerintah yang tahu. Tetapi yang saya angkat permasalahn di sini adalah pelaksanaan UN tetap saja membuat kepedihan, dan menyisakan duka bagi pihak sekolah.

Beberapa yang jadi fakta ketidakberdayaan sekolah terhadap UN
1. Aura UN tetap saja hitam, karena tarafnya Nasional. Sepandai-pandainya Pemerintah  mengkampanyekan UN jujur, hasilnya nol besar. Sekolah sendiri jujur, tetapi tidak mampu menghempang peredaran kunci jawaban yang secara hidden tersebar di kalangan pelajar. Sulit untuk membuktikannya. Sungguh sulit. Konyol saja Pengawas, yang notabene Guru menelanjangi siswa untuk buktinkan dia jujur. tidak masuk akal, bukan?
2. Data nilai UN, sangat dan sangat mengejutkan. SUMPAH. Saya bisa mati berdiri jika memikirkannya. Sungguh dunia bagi saya terbalik, melihat kenyataan Siswa yang dalam kesehariannya tidak mampu, dan jujur bukan menghakimi, tetapi dalam kata halusnya belum mampu untuk menempuh Ujian bertaraf Nasional, dibuktikan dengan nilai-nilai dan motivasi belajar yang sunggu rendah, justru memiliki nilai maksimal. Sedikit???? Jangan salah BANYAKKKKKK. Siswa/i yang jujur jadi korban, siwa juara olimpiade bidang tertentu standar nilainya, tetapi siswa yang hampa kosong dalam respon belajar maksimal nilainya 100 (SERATUS).
JUJUR hampir setiap tahun ini terjadi, di SMA Negeri 1 Gunungsitoli, Pulau Nias.

Pemerintah salah... Pemerintah, saya bantu ya kasi solusi
1. UN dihentikan saja.
2. Program yang berkualitas, dengan pengadaan Guru terbaik, jauh melebihi proyek UN
3. Yakinkan sekolah bahwa mereka jujur, dan biarkan sekolah yang menentukan nilai kelulusan siswa/i yang dijumpainya. Maka yakinlah siswa berada pada porsinya. Representatif.
4. Kualitas sekolah yang dipetakan. Setiap sekolah ditetapkan standar nilai minimumnya, dan biarkan masing-masing menilai sesuai dengan apa yang sudah dicapai.

Berikut ini artikel berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional di berbagai negara.

Tiap tahunnya, selalu saja ada kontroversi mengenai penyelenggaraan UN ini. Tahun lalu misalnya, penyelenggaraan UN di tingkat SMA marak dengan isu korupsi. Meskipun banyak yang menentang penyelenggaraan UN, pemerintah tetap saja melaksanannya.

Namun, tak adakah sistem lain selain UN? Berikut ini tim Whatanews mengumpulkan beberapa sistem pengujian yang digunakan beberapa negara lain di dunia yang disadur dari situs Pctkj.id-fb.com.

Di Finlandia, negara yang memiliki sistem pendidikan paling bagus di dunia, tidak ada ujian nasional. Guru menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi muridnya. Guru, profesi yang paling terhormat di negeri itu, memberi laporan akhir tiap semester kepada siswanya. Laporan itu berisi sifat personal murid-muridnya, berbeda dengan sistem ‘ranking’ yang selama ini kita kenal di Indonesia. Para guru di Finlandia percaya bahwa tiap anak itu unik dan berbeda sehingga mereka sangat menghargai muridnya.

Ujian Nasional juga tidak dikenal di sistem pendidikan di Amerika. Ujian hanya diadakan di tingkat negara bagian. Meskipun demikian, sekolah tidak diwajibkan untuk ikut di ujian ini. Sebagai negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi, sekolah diberikan kebebasan penuh untuk menentukan materi ujian di tempat mereka masing-masing. Kalau begitu, bagaimana caranya agar lulusan SMA bisa masuk ke universitas?

Mudah saja, lulusan SMA atau sederajat di Amerika cukup mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Jadi kualitias mereka benar-benar diuji ketika mereka mau masuk perguruan tinggi. Tidak ada nilai yang ‘dikatrol’ oleh sekolah atau guru mereka.

Menurut Linda Hammond, seorang pakar pendidikan dari Columbia University di New York, nasionalisasi ujian sekolah hanya akan membuat guru menjadi tidak kreatif. Sekolah jadi tidak bisa menciptakan situasi belajar yang sesuai dengan kondisi social, ekonomi, budaya dan teknologi mereka.

Berbeda dengan Finlandia dan Amerika Serikat, Inggris mengenal sistem ujian nasional. Hanya saja, ujian nasional di Inggris berbeda dengan yang ada di Indonesia. Tidak ada siswa yang dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional di Inggris.

Semuanya lulus, ya itu benar. Yang membedakan nantinya tentu saja adalah tinggi rendah nilai yang diperoleh setiap siswa. Nilai inilah yang digunakan untuk masuk ke universitas-universitas di Inggirs. Tiap universitas tentunya sudah memiliki standard sehingga misalnya, siswa yang ingin masuk ke Universitas Cambridge harus belajar secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai bagus menurut standard kampus itu.

Selain tiga negara maju itu, masih banyak negara lain yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dan lebih tidak menimbulkan stress pada siswanya seperti yang terjadi di Indonesia ini. Semoga saja, kedepannya pemerintahan yang baru akan bisa menciptakan sistem pendidikan yang jauh lebih baik dari yang ada sekarang ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...