Senin, 02 Oktober 2017

Gentingnya “AKSELERASI” Pembangunan Sumber Daya Manusia Nias: Suatu Sudut Pandang

Mengurai permasalahan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM)  Nias termasuk langkah awal yang dilakukan dalam menyelesaikannya membutuhkan banyak energi dan tak kunjung berakhir. Rumitnya identifikasi permasalahan tersebut, karena dipengaruhi oleh fenomena dan dinamika sosial yang ada yang sangat mempengaruhi, antara lain politik, pemerintahan, budaya. Pengambilan keputusan dalam percepatan pembenahan sumber daya manusia, menurut hemat saya saya genting untuk dilakukan dan diambil langkahnya secara strategis. Sumber daya manusia mampu mempengaruhi semua aspek kehidupan, baik ekonomi, pelayanan, pemerintahan, sosil-budaya dan lain sebagainya.

Era globalisasi memaksa semua pihak (daerah) untuk bisa survive dan eksis dalam upaya peningkatan kehidupannya di berbagai bidang. Jika tidak dilakukan, maka alhasil suatu daerah akan merangkak bahkan cenderung mundur serta  tak kunjung putus dalam keberadaannya sebagai daerah yang tertinggal.

Berdasarkan pengalaman penulis, potensi yang ada di dalam pemuda/i  Nias sebenarnya tidak kalah dibandingkan masyarakat di daerah lain, misalnya dibandingkan dengan masyarakat tetangganya Tapanuli. Pengalaman penulis berinteraksi dan belajar bersama masyarakat di luar Nias, menyadarkan penulis bahwa betapa generasi Nias sebenarnya mampu berkompetisi dan mensejajarkan dirinya dengan masyarakat lainnya. Akan tetapi, yang sangat kurang adalah ENTITAS (jumlah). Akses masyarakat Nias dalam mengekspos dan berkarya dalam memajukan daerahnya masih sangat kurang dari segi entitas ini, apalagi jika dibandingkan masyarakat lain yang sudah terlebih dahulu mapan secara masif dalam memperjuangkan daerahnya.

ENTITAS SDM Nias yang terbatas inilah, menjadi tak bermakna apa-apa dalam kurun waktu yang sangat panjang (alias tak berdampak), sehingga tidak mampu mengangkat daerahnya dalam suatu kemandirian untuk  mengeksplorasi segala sumber daya (alam) yang ada, dan hal inilah yang sebenarnya dimaksud dengan KETIDAKMAJUAN daerah (berjalan di tempat).

Kesadaran akan pentingnya peningkatan entitas SDM yang handal, hemat penulis bermunculan sudah sangat lama. Kesadaran yang dimaksud biasanya berhenti  pada WACANA semata. Kesadaran disebut wacana, ketika tidak terealisasi, yang tentunya dilatarbelakangi oleh faktor, perencanaan yang tidak matang, strategi yang tidak pas, respon yang kurang baik dan pastinya pendanaan yang minim.
Pemerintah yang diberi “mandat” paling dituntut dengan segala “kepemilikan akan kebijakan”-nya mengeksekusi percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Percepatan peningkatan kualitas SDM Nias, genting untuk dilakukan. Mengingat desakan globalisasi yang menyeret setiap kelompok masyarakat untuk unggul. Arus globalisasi pastinya tidak tanggung-tanggung mampu menghempas kelompok masyarakat yang tidak dapat survive (tertinggal). Untuk itulah upaya mempertahankan identitas dan peradaban Nias, salah satunya dengan percepatan pembangunan SDM di semua aspek (bidang).

Teknologi  informasi dan komunikasi seharusnya tidak lagi menjadi menjadi hambatan berkenaan dengan rencana strategis, jika dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Percepatan TIK secara global, juga pastinya berdampak bagi Nias itu sendiri. TIK kini tampaknya sudah terintegrasi dalam semua aspek perikehidupan yang ada, termasuk dalam penyiapan SDM. Dalam hal ini bagaimana TIK bisa menjadi apparatus yang handal dalam penyiapan dan percepatan peningkatan kualitas SDM, maka dibutuhkan real-action (tindakan nyata) dari Pemerintah Daerah alias si Pemangku Kepentingan.

Pendidikan adalah pilar utama dalam penyiapan dan percepatan kualitas pembangunan manusia itu Bahwa Undang-Undang mengamatkan pendidikan merupakan aspek prioritas dalam agenda pembangunan nasional. Harusnya gayungpun bersambut, pemerintah daerah Nias berusaha menjawabnya dengan manuver-manuver yang kreatif, yang tentunya tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Untuk itu, start yang paling tepat untuk membenahi percepatan peningkatan SDM Nias adalah melalui peningkatan pelayanan pendidikan yang berkualitas itu sendiri.
Manuver yang juga dapat ditempuh segera adalah dengan memperbanyak akses kepada SDM Nias untuk menempuh pendidikan berkualitas ke jenjang yang lebih tinggi. Beasiswa diberikan kepada siswa-siswa berprestasi (berpotensi), untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, demikian juga aparatur sipil (termasuk guru) yang berprestasi (berpotensi) untuk bisa ditingkatkan dan diperkuat keahliannya melalui training ataupun peningkatan pendidikannya.  Manuver seperti ini perlu diperbanyak dan berkesinambungan, dan pastinya dievaluasi feedback apa yang diperoleh. Entitas SDM handal yang lebih banyak, tentunya akan memberikan dampak signifikan dalam kemajuan Nias, seperti yang diharapkan. 

Penulis melihat ada beberapa daerah otonom di Kepulauan Nias, dalam dekade terakhir menjawab tantangan pendidikan yang dimaksud. Eksekusi yang dilakukan bahkan mendapatkan respon yang baik dari masyarakatnya. POLA PENDIDIKAN GRATIS yang pernah ditawarkan, merupakan manuver yang sejalan dengan ide Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003. Tetapi kenyataanya, dalam keberlangsungannya, justeru bermunculan masalah yang paradoks dengan cita-cita Undang-Undang, yaitu Kualitas. Permasalahan pola pendidikan gratis yang bermunculan seolah shock atau efek di luar dugaan dari perencanaan. Faktanya dinamika permasalahan pendidikan tidak hanya berhenti pada pemaknaan pendidikan gratis tersebut yang terletak pada biaya pendidikan (dalam hal ini sekolah).

Banyak permasalahan pendidikan yang seharusnya diidentifikasi dan dirumuskan terlebih dahulu dalam pengambilan kebijakan, utamanya masalah guru dengan kualitasnya, guru dengan penghasilannya, jumlah guru yang tidak merata, sarana prasarana sekolah yang tidak memadai bahkan ada yang cenderung tidak edukatif, dan lain sebagainya. Pekerjaan rumah memang tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah itu sendiri. Dibutuhkan kerja sama yang baik dengan pemerhati, praktisi dan stakeholder dalam mewujudkannya.

Sumber daya manusia yang berkualitas diperoleh dari proses yang berkualitas, proses yang berkualitas diperoleh dari perencanaan yang berkualitas, perencanaan yang berkualitas dirancang oleh pihak-pihak yang berkualitas. Sudah saatnya Pemerintah Daerah di Nias tidak mengandalkan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan dan mengurai permasalahan SDM, artinya Pemerintah harus memiliki manuver dengan menggandeng pihak yang potensial dalam merancang dan mengeksekusi program yang “AMPUH” tersebut.


Sebelum mengakhiri sudut pandang ini, penulis juga menginginkan peran serta  generasi yang sudah memiliki dan telah melalui akses pendidikan yang sudah selangkah lebih maju, agar turut mengambil bagian dalam percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Generasi-generasi muda melalui komunitas-komunitas yang independen bisa mewujudkannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, misalnya menginisiasi pembentukan rumah baca, rumah belajar, rumah kreatif lainnya, yang tentunya membangkitkan energi positif untuk lebih baik. Demikian juga masyarakat, utamanya yang mapan secara ekonomi, sudah saatnya berpikir untuk sharing (berbagi) untuk generasi muda Nias ke depan. Generasi Nias ke depan tidak berhenti pada kita tetapi berlanjut untuk anak, cucu, cicit bahkan cicit dari cicit kita pada masa mendatang, yang pada akhirnya dapat menikmati akses yang lebih mudah dibandingkan sebelumnya, menuju masyarakat Nias yang lebih maju dan modern. 

Profil Penulis:
Sun Theo Constan Lotebulo Ndruru
Kandidat Doktor (Bidang: Kimia Fisik Material)  - Sekolah Pascasarjana, ITB
Pendidikan Terakhir:
1.  Magister Sains (Bidang: Kimia Fisik) – Sekolah Pascasarjana, ITB, tahun 2013
2.  Sarjana Pendidikan (Bidang: Kimia) – FMIPA, Universitas Negeri Medan, tahun 2008
Sejak 2009 mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN)- sekarang. Pernah juga mengajar di berbagai institusi pendidikan menengah dan tinggi di Nias.

Minggu, 16 Juli 2017

Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Ion dari Larutan Elektrolit Li dalam Membran Separator

Menurut hubungan Stokes-Einstein dan hukum Stokes, mobilitas ion dalam elektrolit bergantung pada ukuran ion dan lingkungan interaktif dengan spesies sekitarnya seperti counter-ion, spesies pelarut, dan gugus polar atau site polar pada molekul pelarut. Sebagai contoh, ion litium dalam larutan elektrolit litium umumnya memiliki struktur terlarut (misalnya Li (EC)n+). Nilai dan ukuran solvasi dari ion litium yang dilarutkan bergantung pada konsentrasi garam dan sifat pelarutnya. Sebaliknya, gaya interaktif yang dialami oleh ion dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu interaksi van der Waals yang didominasi oleh spesies netral sekitarnya dan interaksi Coulombic yang terjadi dengan spesies bermuatan seperti counter-ion dan site polar pada molekul pelarut. Efek ini mempengaruhi mikroviscositas spesies mobile.

Dengan mengevaluasi koefisien difusi spesies mobile dalam elektrolit lithium, terlebih dahulu memastikan bahwa interaksi Coulombic antara kation dan anion berhubungan dengan struktur pelarutan litium. Ditemukan bahwa mobilitas kationik dan anionik pada elektrolit gel polimer disebabkan oleh penambahan site polar asam dan basa pada rantai polimer gel, masing-masing. Ini didasarkan pada gagasan bahwa site asam dan basa secara selektif menarik spesies anionik dan kationik, masing-masing, dan mengurangi mobilitas mereka. Hasil ini menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengendalikan mobilitas ionik elektrolit dengan menyesuaikan struktur solvasi ion serta struktur site polar di lingkungan sekitar.

Pada perangkat baterai sekunder, bahan elektrolit dipakai di membran pemisah dan lembaran elektroda. Oleh karena itu, dalam praktiknya sangat beralasan untuk mengasumsikan bahwa kondisi ion dan migrasi ion dalam baterai, dalam praktiknya, akan terpengaruh oleh komponen baterai ini. Dalam laporan kami sebelumnya, kami mengungkapkan melalui analisis koefisien difusi dari spesies ionik dari larutan elektrolit di membran pemisah bahwa membran pemisah berinteraksi dengan ion bergerak. Kami berharap bahwa gaya interaktif yang diberikan oleh pemisah akan bergantung pada karakteristik morfologi. Dari pemisah seperti porositas dan ukuran pori serta komposisi kimia membran. Mobilitas ionik berhubungan langsung dengan kekuatan perangkat baterai. 

Mobilitas tinggi ion lithium menyebabkan daya tinggi pada baterai sekunder litium, yang penting untuk aplikasi perangkat listrik. Selanjutnya, mobilitas ionik secara tidak langsung berhubungan dengan kapasitas sistem baterai karena alasannya sebagai berikut. Selama reaksi transfer muatan, ion lithium bergerak dari anoda melalui pemisah untuk mencapai site aktif pada lembar katoda. Mobilitas ionik yang tinggi memungkinkan ion lithium menembus lembaran elektroda lebih luas, dalam, dan homogen, sehingga jumlah site aktif yang lebih banyak untuk reaksi transfer muatan terjadi. Ini menyiratkan bahwa mobilitas ionik yang lebih tinggi akan menghasilkan kapasitas efektif yang lebih besar. Kemudian dapat disimpulkan bahwa mobilitas ionik di dalam perangkat baterai adalah kunci dalam menentukan daya dan kapasitas sistem baterai.

Sumber:
Factors Controlling the Ionic Mobility of Lithium Electrolyte Solutions in Separator Membranes
Yuria Saito,*,† Wataru Morimura,† Rika Kuratani,‡ and Satoshi Nishikawa‡
†National Institute of Advanced Industrial Science and Technology 1-8-31, Midorigaoka, Ikeda, Osaka 563-8577, Japan ‡Teijin Limited, 2-1, Hinode-cho, Iwakuni, Yamaguchi 740-8511, Japan

Rabu, 22 Februari 2017

Wisatawan Domestik : the truly tourist

Oleh : Sun Theo Constan Lotebulo Ndruru

Beberapa hari ini, saya kembali refleksi terhadap perjalanan dan pengalaman yang saya rasakan tentang daerahku. Terima kasih buat seorang teman wisatawan domestik dari Medan yang kembali mengingatkanku pada suatu masalah yang berhulu dan berakar pada ketidakberdayaan menembus batas-batas itu.

Bermula kehadiran beliau dengan sejuta harapan ingin mengarungi pulauku, berkeliling menikmati pagi siang dan sore lekuk pulauku. Kehadiran beliau saya sambut dengan penuh heran, sekaligus claim: here is the truly tourist. Hadir dengan kesendirian dan kemandirian. Beliau menceritakan dengan berbantuan informasi dari peta yang ia peroleh dari jaringan, bercerita tentang spot-spot wisata yang beliau akan kunjungi, yang saya sendiri kurang paham karena kurang memiliki referensi dan tidak juga berniat untuk memiliki hasrat menjadi seorang adventurer seperti beliau.

Dengan keyakinan yang penuh, beliau dengan kepastian mampu menembus batas-batas itu. Saya sebagai awam tentang touring tidak serta merta menyuruntukan semangat beliau. Saya malah membantu beliau memperkuat keinginannya bahwa everything gonna be okay. Meskipun dengan pengalaman yang saya bagikan, saya membukakan bahwa pulauku, pulau impian barulah wacana dan cita-cita yang saat ini belum bisa terwujud. Kesiapan akan akses, sarana pendukung serta rasa aman yang ditawarkanpun masih diragukan oleh notabene navite people sendiri. Tetapi keyakinan beliau justru tidak surut, entah karena belum tahu real yang sebenarnya, malah justru beliau yakin bisa menaklukkan lekuk pulauku.

Di hari pertama saya berbagi cerita ke dia dengan mengundang ibu dan saudara tertua serta teman-teman saya. Alhasil hari pertama, seorang sahabat siap menjadi guide-nya, karena jujur kecemasan tentang rasa aman merajai dan berada pada nomor antrian terdepan di benakku. Kehadiran sahabat tersebut meyakinkanku 100% dia aman dan enjoyable menikmati apa yang menjadi impian beliau melewati lekuk utara pulauku. Alhasil, dia menemukan spot yang diakui beliau luarbiasa dan recommended untuk dinikmati, meskipun spot itu belum terekam pada database sistem informasinya. Beliau begitu senang membagikan foto yang berhasil ia dokumentasikan selama perjalanan seharinya.

Hari kedua, dengan keyakinan penuh akan menemukan rental motorpun menjadi trending pada saat itu. Jauh hari saya sampaikan bahwa saya memiliki batas memfasilitasi beliau, tetapi setidaknya saya berusaha untuk mencari alternatif. Dengan berbantuan siswa saya, mereka mencari di sekitar kota motor yang dapat direntalkan, dan gagal. Saya sempat berbagi cerita dengan siswa-siswa saya saat itu, bahwa pulauku belum siap menjadi pulau impian. Tempat wisata yang tidak permanen, akses jalan yang sulit ditembus, dan terutama adalah rasa aman yang ditawarkan menjadi faktor terbesar dalam berwisata. Saya sempat menyalahkan promosi yang berlebihan tentang pulauku pulau impian, yang berdampak pada ketidakberdayaan kita menghadang permintaan ketika kasus seperti ini hadir di daerahku yakni kasus the truly tourist (sang adventurer).

Tidak perlu panjang lebar, kegagalan memperoleh motor rentalpun berakhir, dengan kebaikan seorang sahabat meminjamkan motor kepada beliau. Finally, beliau pergi dengan semangat. Salut untuk beliau...

Hari ketiga, di sinilah point saya untuk berefleksi. Saya bersama beliau dan beberapa teman guru, rekan sekerja saya, melayat ke rumah duka atas meninggalnya orangtua dari Bos saya di sekolah. Perjalanan yang sungguh berkesan, kami dihadapkan dengan medan yang hanya bisa dipertaruhkan melalui jalan kaki. Di sini saya kembali teringat dengan tuntutan-tuntutan negeriku. Janji-janji Pemerintah kepada warga negeranya. Sungguh ironi sekali, sejak republik berdiri, sedikitpun tak terjamah pembangunan jalan.

Ketika saya dan beliau sampai kembali ke kota, di sinilah saya buka cakrawalanya tentang lini terpenting dalam kemajuan bangsa, yaitu Pendidikan. Dimulai dari pengharapan masyarakat yang tdk pernah terwujud, ketersediaan infrastruktur, kesejahteraan guru, keberadaan SDM, mindset masyarakat, kebijakan Pemerintah yang bermuara pada kualitas pendidikan. Setidaknya saya kupas beberapa tokoh asal pulauku, tokoh pemuda yang ingin berbagi tanpa pamrih, pengalamanku ditawari ngajar privat, pengalaman ngajar di Sekolah Tinggi, gaji guru di pedalaman yang jauh dari kemanusiaan, UN bohongan, yang kesemuanya itu membuat dia geleng2 kepala.

Dan sayapun memulainya...
Pemerintahan Indonesia sudah berjalam hingga kini menuju usia 71 tahun (pada waktu itu), tetapi dinamika perpolitikan yang justru merajai seluruh aspek kehidupan di Indonesia, menumbuhkembangkan kaum elit yang bermotif memperjuangkan kehidupan bangsa. Teringatnya, seandainya kemerdekaan kita adalah hadiah dari negara lain, mungkin ceritanya berbeda ya. Bisa lebih buruk, atau bahkan lebih maju. Seperti Amerika yang merupakan ex-koloni Inggris, seperti Australia yang masih berada pada wilayah pemerintahan Inggris, Kanada negara dengan wilayah terluas di duniapun bisa tegak meskipun dikomandoi Kerajaan Inggris. Atau seandainya negara kita berbentuk monarki (kerajaan) mungkin saja lebih damai dan mudah dikontrol? Dan saya pun tidak yakin  demikian. Kita berbeda, Indonesia beda.

Saya lebih yakin bahwa kemajuan suatu bangsa dan negara ditentukan oleh andil masyarakatnya sendiri yang dalam istilah saya yakni masayrakat yang teredukasi. That's the point, educated society. Bagaimana gambaran masyarakat yang teredukasi itu?
Masyarakat yang teredukasi tidaklah muncul serta merta dengan lahirnya suatu negara. Tetapi mudah tidaknya membentuk masyarakat yang teredukasi adalah peran dari negara itu sendiri. Negera memiliki konstitusi,  negara memiliki power, negara memiliki seluruh apapun di wilayah ini seharusnya mampu menyelesaikannya.

Saya tidak perlu menceritakan daerah terpencil lainnya di wilayah Indonesia, tetapi yang saya jadikan cerminan adalah daerahku, dengan 4 kabupaten dan 1 kota. Pulau yang memiliki sejuta potensi, pulau yang dengan alamiah bertahan hidup dengan kreativitasnya sejak dahulu dan kreativitas tersebut juga dimiliki oleh daerah-daerah lain di penjuru Nusantara. Pertanyaannya mengapa masyarakat masih saja mengeluh, bukankah mereka mampu bertahan hidup? Ini yang menjadi persoalannya. Konsep bertahan hidup yang dimaksud hanya berhenti pada jari jemari tersebut, kalau istilahnya hanya berupa pengetahuan yang dibawa turun temurun, tidak melalui konsep untuk pengembangan sehingga mampu menyebar luas dan dirasakan oleh masyarakat yang luas tersebut. Konsep bertahan hidup ini merupakan proses spontan yang tetap saja terbatas, sehingga masyarakat hidup seadanya ketika berakhir pada usia senja.

Pertanyaan mungkin muncul, sudahkah masyarakat maksimal berbuat? Hemat saya sudah (meskipun terbatas). Saya selalu geleng-geleng kepala ketika kelompok elit pesimis bahwa akar permasalahan adalah masyarakat itu sendiri. Sungguh pernyataan yang tidak beralasan. Elit punya kuasa, elit diberi mandat, elit punya fungsi, seharusnya berdayakanlah masyarakat tersebut. Kenyataannya ternyata elit juga hanya duduk diam dan menyalahkan keadaan. Elit seharusnya menjadi fasilitator karena memiliki potensi besar menembus batas. Batas komunikasi yang kini bisa ditembus menjadi modal paling besar untuk memberdayakan dan mengedukasi masyarakat. Tetapi permasalahan justru berada pada elit tersebut. Benarkah mereka bekerja benarkah mereka membawa dan mengangkat amanat rakyat, kalau mereka-mereka sendiri hanya bertopeng.

Teringatnya ketika wacana otonomi daerah mengemukaka dekade terakhir, rasa dan keinginan untuk maju menjadi slogan di barisan pertama. Tiap-tiap daerah percaya diri akan keberadaan dan kesiapannya. Muncullah elit-elit yang justru paling kuat meneriakkan pembangunan. Kita punya ini, punya itu, kita bisa, kita mampu, percayalah ungkapan-ungkapan itu yang kerap sekali hadir setiap awal-awal suatu gerakan. Sudahkah kita bergerak? Justru kaum elit kini kebingungan, kaum elit kini saling menyalahkan. Mereka lupa bahwa mereka adalah pemegang mandat perjuangan itu. Entah mengapa, mobilisasi masyarakat yang saya rasakan justuru makin tak menentu. Masyarakat hanya dijadikan objek, bukan subjek pembangunan. Masyarakat yang menjadi subjek pembangunan inilah yang saya istilahkan dengan masyarakat yang teredukasi.

Mengapa pemerintah dan elit-elit sungkan mengedukasi masyarakat? Hingga kini saya bertanya tanya. Ada apa gerangan? Tidak terpikirkah mereka ini fatal untuk peradaban manusia. Atau jangan-jangan elit dan pemerintah tidak tahu apa yang mereka tidak tahu.

Perjalanan saya sejak kecil bersama dengan orangtua saya, menuju daerah tertentu menggunakan tenaga kaki, kini menyadarkanku betapa masyarakat butuh sentuhan tangan. Masyarakat sudah berbuat, tetapi mereka terbatas. Mereka memang butuh gebrakan-gebrakan untuk mendobrak batas-batas tersebut. Pembangunan yang sepotong-sepotong menjadi jargonnya Pemerintah. Seolah mereka sudah maksimal, sudah cukup mengangkat dan memberdayakan. Apa iya? Kita sudah rasakan, kita sebenarnya hanya diberikan tontonan, tetapi sesungguhnya kita sedang jalan di tempat. Otonomi yang menjadi harapan menuju kemandirian sebenarnya dapat terwujud.

Bidang pendidikan merupakan aspek yang sangat strategis mempercepat kemajuan suatu daerah, kalau kaum elit dan pemerintah benar-benar mau mewujudkannya. Pemerintah harus tahu duduk permasalahannya, harus mampu mengkaji dan harus mampu mengeksekusi. Negara maju sudah membuktikan dirinya dengan meng-claim aspek pendidikan sebagai kuncinya. Pembangunan manusianya dihasilkan secara terpadu melalui penyiapan infratruktur, sarana dan prasarana, kejahteraan sosial serta lingkungan hidup. Pembangunan yang terpadu ini adalah kunci mengangkat dan mewujudkan masyarakat yang teredukasi. Pembangunan terpadu yang dirancang dengan konsep yang jelas, tujuan yang mantap, akan terwujud jika kaum elit dan pemerintah sungguh-sungguh berkerja. (to be continued...)


(dirampungkan tanggal 22 Februari 2017
)

Jumat, 20 Januari 2017

PEMBANGUNAN TERPADU: ALTERNATIF PENGUATAN DAN PELESTARIAN POTENSI PARIWISATA DI KEPULAUAN NIAS

Sektor kepariwisataan telah terbukti berperan penting dalam menyumbang perkembangan perekonomian suatu negara (Sunaryo, 2012). Kesadaran pentingnya sektor pariwisata dalam kemajuan suatu negara, telah memotivasi perencanaan yang serius dalam mengembangkan kepariwisataan hingga ke daerah-daerah. Setiap daerah dengan segala aspek fisik (alam) dan sosial (masyarakat), tentu saja memiliki keunikannya sendiri. Nirwandar dalam tulisannya, menyebutkan bahwa kekuatan suatu daerah yang dapat menjadi objek wisata antara lain daya tarik budaya, daya tarik wisata alam, keragaman aktivitas wisata yang dilakukan dan kehidupan masyarakat yang khas. Pengemasan daya tarik wisata harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Demikian juga peran penting sumber daya manusia tidak dapat diabaikan termasuk usaha-usaha yang dilakukan untuk mempromosikannya serta rasa aman yang ditawarkan.

Kepulauan Nias telah dikenal lama sebagai objek wisata dan diakui dunia. Kekuatan atau daya tarik pariwisata Nias yang membedakannya dengan negara lain antara lain keindahan alamnya, budaya yang unik, megalit yang telah berumur ribuan tahun atau karena nilai arsitektur rumah tradisionalnya. Objek wisata unggulan tersebut antara lain Gawu Soyo, pantai pulau Asu, pantai Sorake, pantai Lagundri, pantai Turelotu, tradisi Lompat Batu Nias, Desa Bawomataluo, Desa Orahili dan masih banyak lagi. Hanya saja, sektor pariwisata di Kepulauan Nias belum menjadi sektor yang unggul. Hal ini tentunya dilatarbelakangi faktor pengemasan daya tarik wisata yang masih sangat kurang (Samawi, 2009).

Terwujudnya sektor pariwisata yang unggul di kepulauan Nias bukan perkara yang mudah, tetapi bukan pula perkara yang mustahil untuk dapat diwujudkan melalui kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Pembangunan Terpadu

Potensi fisik (alam) dan sosial (masyarakat) yang dimiliki oleh Kepulauan Nias, sejatinya, sudah memberikan peluang untuk dikembangkan dan dilestarikan dalam sektor pariwisata. Selain peluang wisata alam yang dipaparkan di atas, peluang wisata di bidang kesenian daerah sangat menjanjikan bila dilestarikan dan dikembangkan menjadi potensi yang unggul untuk sektor pariwisata di kepulauan Nias. Tari perang, tari sekapur sirih, tari maena, tari moyo memiliki keunikan tersendiri serta memiliki nilai estetik yang tinggi untuk bisa dinikmati oleh wisatawan. Demikian pula, potensi kerajinan tangan masyarakat Nias, seperti miniatur-miniatur berornamen Nias, kain tenun Nias yang sudah ada sejak dahulu, alangkah disayangkan jika tidak dilestarikan dan diperkenalkan kepada wisatawan. Bahasa, pantun, peribahasa, lagu, alat musik, tata upacara adat (pernikahan, pemberkatan, owasa) merupakan potensi yang sangat besar dan bernilai luhur tinggi, yang sangat berpeluang untuk diapresiasi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Peluang-peluang yang sudah dimiliki oleh Kepulauan Nias dapat tereksekusi dengan baik jika seluruh komponen yang berkepentingan bekerja sama untuk membangunnya (Pembangunan Terpadu).

Dalam mewujudkan sektor pariwisata yang unggul, masyarakat (dalam hal ini masyarakat Kepulauan Nias) memegang peranan sangat penting. Oleh masyarakat, pariwisata di Kepulauan Nias diperkenalkan di mata dunia, bahkan masyarakat dengan kreativitasnya dapat membuka peluang pariwisata tersebut. Kehadiran wisatawan dengan latar belakang yang berbeda, tentunya harus disambut hangat dengan penuh rasa aman oleh masyarakat Nias. Sapaan Ya’ahowu adalah warisan peninggalan budaya yang turun-temurun digunakan hingga saat ini. Patut orang Nias berbangga dengan bukti jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya. Aspek sambutan (seperti sapaan Ya’ahowu) dan kesiapan masyarakat Nias merupakan daya tarik tersendiri kepada wisatawan untuk berkunjung kembali ke kepulauan Nias.

Peran Pemerintah dalam pembangunan terpadu khususnya dalam mengedukasi dan memberdayakan masyarakat dapat dilakukan melalui kebijakan di bidang pendidikan. Pembangunan sekolah pariwisata, pelatihan-pelatihan, study tour, even-even pemilihan duta wisata dan lain sebagainya, adalah program yang unggul dalam upaya mewujudkan masyarakat Nias yang teredukasi dan sadar wisata. Generasi penerus (siswa dan mahasiswa) sebagai bagian dari masyarakat harus dibekali pengetahuan tentang potensi dan peluang pariwisata sehingga dapat mengambil bagian dalam pengembangan dan pelestarian destinasi wisata di Kepulauan Nias.

Infrastruktur dan sarana prasarana pendukung termasuk transportasi adalah bagian yang paling banyak “dituntut” dalam pembangunan sektor pariwisata. Dari beberapa pengalaman, tidak sedikit wisatawan yang berkunjung di Kepulauan Nias terpaksa tidak meneruskan kunjungan wisatanya, diakibatkan akses dan daya dukung pada destinasi wisata sangat terbatas dan jauh dari harapan. Pengalaman Kusuma (2016) menyebutkan bahwa untuk mengunjungi destinasi wisata di Kepulauan Nias baiknya berkelompok untuk bisa menyewa transportasi (mobil sewa) dan mencari guide lokal yang lebih mengerti kondisi alam dan bahasa lokal Nias. Jadi terkesan kepariwisataan Kepulauan Nias masih belum bisa memfasilitasi wisatawan yang berkunjung secara individu, dikarenakan keterbatasan transportasi dan sarana yang mendukung.

Perlu diketahui bahwa kawasan pengembangan pariwisata nasional sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) yang diundangkan di Jakarta 2 Desember 2011, menetapkan kawasan Nias sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional (DPN). Dengan demikian sebenarnya Pemerintah di Kepulauan Nias terbantu dengan dukungan pemerintah, dengan ditetapkannya kawasan Nias sebagai salah satu destinasi wisata (Sunaryo, 2012).

Pembangunan terpadu merupakan kesinergisan antara potensi yang dimiliki, stakeholder dan infrastruktur, sehingga menjadi alternatif yang ampuh untuk mewujudkan peluang pariwisata menjadi kenyataan. Sejatinya model dan paradigma pembangunan kepariwisataan tertentu menjadi strategis, bila semua pemangku kepentingan bergerak, membutuhkan kesamaan bahasa dalam berpikir, bersikap, sehingga masing-masing pihak tidak berjalan menurut intuisi, penafsiran dan kepentingan masing-masing (Sunaryo, 2012). Kenyataan pembangun terpadu yang penulis maksudkan berlaku pula pada konsep objek wisata yang terpadu. Objek wisata yang terpadu dapat berupa beragamnya potensi yang ditawarkan untuk satu destinasi. Wisata alam misalnya, juga harus menawarkan daya tarik pendukung lainnya, misalnya kerajinan tangan daerah, memperkenalkan tarian daerah, menyajikan kuliner untuk dinikmati wisatawan bahkan dapat mencerminkan budaya adat istiadat yang berlaku di daerah Kepulauan Nias. Konsep objek wisata terpadu ini, tentunya menghasilkan manfaat yang besar terhadap wisatawan, sekali mendayung dua buah pulau terlewati.


Terwujudnya pembangunan terpadu dengan konsep wisata terpadu merupakan tujuan penting untuk menghasilkan kesejahteraan daerah. Manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat Nias antara lain pelestarian potensi yang sudah dimiliki dan peningkatan perekonomian sebagai apreasiasi dan jasa yang ditawarkan. Untuk itu pemerintah sebagai perencana kebijakan, masyarakat sebagai agen pengembang dan pelestari serta infrastruktur pendukung sebagai akses harus seiring sejalan dalam menyukseskan sektor pariwisata sebagai aspek yang unggul, khususnya di Kepulauan Nias.

Potensi yang dimiliki Kepulauan Nias adalah peluang yang sangat besar untuk menggiring sektor pariwisata yang unggul. Mewujudkan sektor pariwisata yang unggul dilakukan dengan Pembangunan Terpadu. Kesinergisan antara pemerintah, masyarakat dan infrastruktur pendukung adalah kunci terwujudnya destinasi wisata yang terpadu, sehingga dapat memberikan kontribusi besar dalam pembangunan nasional (terutama Kepulauan Nias).

Referensi
1. Sunaryo, Bambang, (2012), Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata, Penerbit Gava Media : Yogyakarta
2. Kusuma, Barry, (2016), Top 15 Travel Destinations In Indonesia, Penerbit PT Elex Media Komputindo : Jakarta
3. Laporan akuntabilitas kinerja Kementerian Pariwisata tahun 2015
4. Samawi, Arfan, (2009), Wisata Nias, http://belajarterusjanganmenyerah.blogspot.co.id/
5. Nirwandar, Sapta, (_______), Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah
6. Paparan Deputi Bidang Ekonomi tentang Pembangunan Pariwisata 2015-2019, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...