Jumat, 20 Januari 2017

PEMBANGUNAN TERPADU: ALTERNATIF PENGUATAN DAN PELESTARIAN POTENSI PARIWISATA DI KEPULAUAN NIAS

Sektor kepariwisataan telah terbukti berperan penting dalam menyumbang perkembangan perekonomian suatu negara (Sunaryo, 2012). Kesadaran pentingnya sektor pariwisata dalam kemajuan suatu negara, telah memotivasi perencanaan yang serius dalam mengembangkan kepariwisataan hingga ke daerah-daerah. Setiap daerah dengan segala aspek fisik (alam) dan sosial (masyarakat), tentu saja memiliki keunikannya sendiri. Nirwandar dalam tulisannya, menyebutkan bahwa kekuatan suatu daerah yang dapat menjadi objek wisata antara lain daya tarik budaya, daya tarik wisata alam, keragaman aktivitas wisata yang dilakukan dan kehidupan masyarakat yang khas. Pengemasan daya tarik wisata harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Demikian juga peran penting sumber daya manusia tidak dapat diabaikan termasuk usaha-usaha yang dilakukan untuk mempromosikannya serta rasa aman yang ditawarkan.

Kepulauan Nias telah dikenal lama sebagai objek wisata dan diakui dunia. Kekuatan atau daya tarik pariwisata Nias yang membedakannya dengan negara lain antara lain keindahan alamnya, budaya yang unik, megalit yang telah berumur ribuan tahun atau karena nilai arsitektur rumah tradisionalnya. Objek wisata unggulan tersebut antara lain Gawu Soyo, pantai pulau Asu, pantai Sorake, pantai Lagundri, pantai Turelotu, tradisi Lompat Batu Nias, Desa Bawomataluo, Desa Orahili dan masih banyak lagi. Hanya saja, sektor pariwisata di Kepulauan Nias belum menjadi sektor yang unggul. Hal ini tentunya dilatarbelakangi faktor pengemasan daya tarik wisata yang masih sangat kurang (Samawi, 2009).

Terwujudnya sektor pariwisata yang unggul di kepulauan Nias bukan perkara yang mudah, tetapi bukan pula perkara yang mustahil untuk dapat diwujudkan melalui kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Pembangunan Terpadu

Potensi fisik (alam) dan sosial (masyarakat) yang dimiliki oleh Kepulauan Nias, sejatinya, sudah memberikan peluang untuk dikembangkan dan dilestarikan dalam sektor pariwisata. Selain peluang wisata alam yang dipaparkan di atas, peluang wisata di bidang kesenian daerah sangat menjanjikan bila dilestarikan dan dikembangkan menjadi potensi yang unggul untuk sektor pariwisata di kepulauan Nias. Tari perang, tari sekapur sirih, tari maena, tari moyo memiliki keunikan tersendiri serta memiliki nilai estetik yang tinggi untuk bisa dinikmati oleh wisatawan. Demikian pula, potensi kerajinan tangan masyarakat Nias, seperti miniatur-miniatur berornamen Nias, kain tenun Nias yang sudah ada sejak dahulu, alangkah disayangkan jika tidak dilestarikan dan diperkenalkan kepada wisatawan. Bahasa, pantun, peribahasa, lagu, alat musik, tata upacara adat (pernikahan, pemberkatan, owasa) merupakan potensi yang sangat besar dan bernilai luhur tinggi, yang sangat berpeluang untuk diapresiasi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Peluang-peluang yang sudah dimiliki oleh Kepulauan Nias dapat tereksekusi dengan baik jika seluruh komponen yang berkepentingan bekerja sama untuk membangunnya (Pembangunan Terpadu).

Dalam mewujudkan sektor pariwisata yang unggul, masyarakat (dalam hal ini masyarakat Kepulauan Nias) memegang peranan sangat penting. Oleh masyarakat, pariwisata di Kepulauan Nias diperkenalkan di mata dunia, bahkan masyarakat dengan kreativitasnya dapat membuka peluang pariwisata tersebut. Kehadiran wisatawan dengan latar belakang yang berbeda, tentunya harus disambut hangat dengan penuh rasa aman oleh masyarakat Nias. Sapaan Ya’ahowu adalah warisan peninggalan budaya yang turun-temurun digunakan hingga saat ini. Patut orang Nias berbangga dengan bukti jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya. Aspek sambutan (seperti sapaan Ya’ahowu) dan kesiapan masyarakat Nias merupakan daya tarik tersendiri kepada wisatawan untuk berkunjung kembali ke kepulauan Nias.

Peran Pemerintah dalam pembangunan terpadu khususnya dalam mengedukasi dan memberdayakan masyarakat dapat dilakukan melalui kebijakan di bidang pendidikan. Pembangunan sekolah pariwisata, pelatihan-pelatihan, study tour, even-even pemilihan duta wisata dan lain sebagainya, adalah program yang unggul dalam upaya mewujudkan masyarakat Nias yang teredukasi dan sadar wisata. Generasi penerus (siswa dan mahasiswa) sebagai bagian dari masyarakat harus dibekali pengetahuan tentang potensi dan peluang pariwisata sehingga dapat mengambil bagian dalam pengembangan dan pelestarian destinasi wisata di Kepulauan Nias.

Infrastruktur dan sarana prasarana pendukung termasuk transportasi adalah bagian yang paling banyak “dituntut” dalam pembangunan sektor pariwisata. Dari beberapa pengalaman, tidak sedikit wisatawan yang berkunjung di Kepulauan Nias terpaksa tidak meneruskan kunjungan wisatanya, diakibatkan akses dan daya dukung pada destinasi wisata sangat terbatas dan jauh dari harapan. Pengalaman Kusuma (2016) menyebutkan bahwa untuk mengunjungi destinasi wisata di Kepulauan Nias baiknya berkelompok untuk bisa menyewa transportasi (mobil sewa) dan mencari guide lokal yang lebih mengerti kondisi alam dan bahasa lokal Nias. Jadi terkesan kepariwisataan Kepulauan Nias masih belum bisa memfasilitasi wisatawan yang berkunjung secara individu, dikarenakan keterbatasan transportasi dan sarana yang mendukung.

Perlu diketahui bahwa kawasan pengembangan pariwisata nasional sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) yang diundangkan di Jakarta 2 Desember 2011, menetapkan kawasan Nias sebagai salah satu destinasi pariwisata nasional (DPN). Dengan demikian sebenarnya Pemerintah di Kepulauan Nias terbantu dengan dukungan pemerintah, dengan ditetapkannya kawasan Nias sebagai salah satu destinasi wisata (Sunaryo, 2012).

Pembangunan terpadu merupakan kesinergisan antara potensi yang dimiliki, stakeholder dan infrastruktur, sehingga menjadi alternatif yang ampuh untuk mewujudkan peluang pariwisata menjadi kenyataan. Sejatinya model dan paradigma pembangunan kepariwisataan tertentu menjadi strategis, bila semua pemangku kepentingan bergerak, membutuhkan kesamaan bahasa dalam berpikir, bersikap, sehingga masing-masing pihak tidak berjalan menurut intuisi, penafsiran dan kepentingan masing-masing (Sunaryo, 2012). Kenyataan pembangun terpadu yang penulis maksudkan berlaku pula pada konsep objek wisata yang terpadu. Objek wisata yang terpadu dapat berupa beragamnya potensi yang ditawarkan untuk satu destinasi. Wisata alam misalnya, juga harus menawarkan daya tarik pendukung lainnya, misalnya kerajinan tangan daerah, memperkenalkan tarian daerah, menyajikan kuliner untuk dinikmati wisatawan bahkan dapat mencerminkan budaya adat istiadat yang berlaku di daerah Kepulauan Nias. Konsep objek wisata terpadu ini, tentunya menghasilkan manfaat yang besar terhadap wisatawan, sekali mendayung dua buah pulau terlewati.


Terwujudnya pembangunan terpadu dengan konsep wisata terpadu merupakan tujuan penting untuk menghasilkan kesejahteraan daerah. Manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat Nias antara lain pelestarian potensi yang sudah dimiliki dan peningkatan perekonomian sebagai apreasiasi dan jasa yang ditawarkan. Untuk itu pemerintah sebagai perencana kebijakan, masyarakat sebagai agen pengembang dan pelestari serta infrastruktur pendukung sebagai akses harus seiring sejalan dalam menyukseskan sektor pariwisata sebagai aspek yang unggul, khususnya di Kepulauan Nias.

Potensi yang dimiliki Kepulauan Nias adalah peluang yang sangat besar untuk menggiring sektor pariwisata yang unggul. Mewujudkan sektor pariwisata yang unggul dilakukan dengan Pembangunan Terpadu. Kesinergisan antara pemerintah, masyarakat dan infrastruktur pendukung adalah kunci terwujudnya destinasi wisata yang terpadu, sehingga dapat memberikan kontribusi besar dalam pembangunan nasional (terutama Kepulauan Nias).

Referensi
1. Sunaryo, Bambang, (2012), Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata, Penerbit Gava Media : Yogyakarta
2. Kusuma, Barry, (2016), Top 15 Travel Destinations In Indonesia, Penerbit PT Elex Media Komputindo : Jakarta
3. Laporan akuntabilitas kinerja Kementerian Pariwisata tahun 2015
4. Samawi, Arfan, (2009), Wisata Nias, http://belajarterusjanganmenyerah.blogspot.co.id/
5. Nirwandar, Sapta, (_______), Pembangunan Sektor Pariwisata di Era Otonomi Daerah
6. Paparan Deputi Bidang Ekonomi tentang Pembangunan Pariwisata 2015-2019, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...