Senin, 02 Oktober 2017

Gentingnya “AKSELERASI” Pembangunan Sumber Daya Manusia Nias: Suatu Sudut Pandang

Mengurai permasalahan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM)  Nias termasuk langkah awal yang dilakukan dalam menyelesaikannya membutuhkan banyak energi dan tak kunjung berakhir. Rumitnya identifikasi permasalahan tersebut, karena dipengaruhi oleh fenomena dan dinamika sosial yang ada yang sangat mempengaruhi, antara lain politik, pemerintahan, budaya. Pengambilan keputusan dalam percepatan pembenahan sumber daya manusia, menurut hemat saya saya genting untuk dilakukan dan diambil langkahnya secara strategis. Sumber daya manusia mampu mempengaruhi semua aspek kehidupan, baik ekonomi, pelayanan, pemerintahan, sosil-budaya dan lain sebagainya.

Era globalisasi memaksa semua pihak (daerah) untuk bisa survive dan eksis dalam upaya peningkatan kehidupannya di berbagai bidang. Jika tidak dilakukan, maka alhasil suatu daerah akan merangkak bahkan cenderung mundur serta  tak kunjung putus dalam keberadaannya sebagai daerah yang tertinggal.

Berdasarkan pengalaman penulis, potensi yang ada di dalam pemuda/i  Nias sebenarnya tidak kalah dibandingkan masyarakat di daerah lain, misalnya dibandingkan dengan masyarakat tetangganya Tapanuli. Pengalaman penulis berinteraksi dan belajar bersama masyarakat di luar Nias, menyadarkan penulis bahwa betapa generasi Nias sebenarnya mampu berkompetisi dan mensejajarkan dirinya dengan masyarakat lainnya. Akan tetapi, yang sangat kurang adalah ENTITAS (jumlah). Akses masyarakat Nias dalam mengekspos dan berkarya dalam memajukan daerahnya masih sangat kurang dari segi entitas ini, apalagi jika dibandingkan masyarakat lain yang sudah terlebih dahulu mapan secara masif dalam memperjuangkan daerahnya.

ENTITAS SDM Nias yang terbatas inilah, menjadi tak bermakna apa-apa dalam kurun waktu yang sangat panjang (alias tak berdampak), sehingga tidak mampu mengangkat daerahnya dalam suatu kemandirian untuk  mengeksplorasi segala sumber daya (alam) yang ada, dan hal inilah yang sebenarnya dimaksud dengan KETIDAKMAJUAN daerah (berjalan di tempat).

Kesadaran akan pentingnya peningkatan entitas SDM yang handal, hemat penulis bermunculan sudah sangat lama. Kesadaran yang dimaksud biasanya berhenti  pada WACANA semata. Kesadaran disebut wacana, ketika tidak terealisasi, yang tentunya dilatarbelakangi oleh faktor, perencanaan yang tidak matang, strategi yang tidak pas, respon yang kurang baik dan pastinya pendanaan yang minim.
Pemerintah yang diberi “mandat” paling dituntut dengan segala “kepemilikan akan kebijakan”-nya mengeksekusi percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Percepatan peningkatan kualitas SDM Nias, genting untuk dilakukan. Mengingat desakan globalisasi yang menyeret setiap kelompok masyarakat untuk unggul. Arus globalisasi pastinya tidak tanggung-tanggung mampu menghempas kelompok masyarakat yang tidak dapat survive (tertinggal). Untuk itulah upaya mempertahankan identitas dan peradaban Nias, salah satunya dengan percepatan pembangunan SDM di semua aspek (bidang).

Teknologi  informasi dan komunikasi seharusnya tidak lagi menjadi menjadi hambatan berkenaan dengan rencana strategis, jika dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Percepatan TIK secara global, juga pastinya berdampak bagi Nias itu sendiri. TIK kini tampaknya sudah terintegrasi dalam semua aspek perikehidupan yang ada, termasuk dalam penyiapan SDM. Dalam hal ini bagaimana TIK bisa menjadi apparatus yang handal dalam penyiapan dan percepatan peningkatan kualitas SDM, maka dibutuhkan real-action (tindakan nyata) dari Pemerintah Daerah alias si Pemangku Kepentingan.

Pendidikan adalah pilar utama dalam penyiapan dan percepatan kualitas pembangunan manusia itu Bahwa Undang-Undang mengamatkan pendidikan merupakan aspek prioritas dalam agenda pembangunan nasional. Harusnya gayungpun bersambut, pemerintah daerah Nias berusaha menjawabnya dengan manuver-manuver yang kreatif, yang tentunya tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Untuk itu, start yang paling tepat untuk membenahi percepatan peningkatan SDM Nias adalah melalui peningkatan pelayanan pendidikan yang berkualitas itu sendiri.
Manuver yang juga dapat ditempuh segera adalah dengan memperbanyak akses kepada SDM Nias untuk menempuh pendidikan berkualitas ke jenjang yang lebih tinggi. Beasiswa diberikan kepada siswa-siswa berprestasi (berpotensi), untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, demikian juga aparatur sipil (termasuk guru) yang berprestasi (berpotensi) untuk bisa ditingkatkan dan diperkuat keahliannya melalui training ataupun peningkatan pendidikannya.  Manuver seperti ini perlu diperbanyak dan berkesinambungan, dan pastinya dievaluasi feedback apa yang diperoleh. Entitas SDM handal yang lebih banyak, tentunya akan memberikan dampak signifikan dalam kemajuan Nias, seperti yang diharapkan. 

Penulis melihat ada beberapa daerah otonom di Kepulauan Nias, dalam dekade terakhir menjawab tantangan pendidikan yang dimaksud. Eksekusi yang dilakukan bahkan mendapatkan respon yang baik dari masyarakatnya. POLA PENDIDIKAN GRATIS yang pernah ditawarkan, merupakan manuver yang sejalan dengan ide Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003. Tetapi kenyataanya, dalam keberlangsungannya, justeru bermunculan masalah yang paradoks dengan cita-cita Undang-Undang, yaitu Kualitas. Permasalahan pola pendidikan gratis yang bermunculan seolah shock atau efek di luar dugaan dari perencanaan. Faktanya dinamika permasalahan pendidikan tidak hanya berhenti pada pemaknaan pendidikan gratis tersebut yang terletak pada biaya pendidikan (dalam hal ini sekolah).

Banyak permasalahan pendidikan yang seharusnya diidentifikasi dan dirumuskan terlebih dahulu dalam pengambilan kebijakan, utamanya masalah guru dengan kualitasnya, guru dengan penghasilannya, jumlah guru yang tidak merata, sarana prasarana sekolah yang tidak memadai bahkan ada yang cenderung tidak edukatif, dan lain sebagainya. Pekerjaan rumah memang tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah itu sendiri. Dibutuhkan kerja sama yang baik dengan pemerhati, praktisi dan stakeholder dalam mewujudkannya.

Sumber daya manusia yang berkualitas diperoleh dari proses yang berkualitas, proses yang berkualitas diperoleh dari perencanaan yang berkualitas, perencanaan yang berkualitas dirancang oleh pihak-pihak yang berkualitas. Sudah saatnya Pemerintah Daerah di Nias tidak mengandalkan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan dan mengurai permasalahan SDM, artinya Pemerintah harus memiliki manuver dengan menggandeng pihak yang potensial dalam merancang dan mengeksekusi program yang “AMPUH” tersebut.


Sebelum mengakhiri sudut pandang ini, penulis juga menginginkan peran serta  generasi yang sudah memiliki dan telah melalui akses pendidikan yang sudah selangkah lebih maju, agar turut mengambil bagian dalam percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Generasi-generasi muda melalui komunitas-komunitas yang independen bisa mewujudkannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, misalnya menginisiasi pembentukan rumah baca, rumah belajar, rumah kreatif lainnya, yang tentunya membangkitkan energi positif untuk lebih baik. Demikian juga masyarakat, utamanya yang mapan secara ekonomi, sudah saatnya berpikir untuk sharing (berbagi) untuk generasi muda Nias ke depan. Generasi Nias ke depan tidak berhenti pada kita tetapi berlanjut untuk anak, cucu, cicit bahkan cicit dari cicit kita pada masa mendatang, yang pada akhirnya dapat menikmati akses yang lebih mudah dibandingkan sebelumnya, menuju masyarakat Nias yang lebih maju dan modern. 

Profil Penulis:
Sun Theo Constan Lotebulo Ndruru
Kandidat Doktor (Bidang: Kimia Fisik Material)  - Sekolah Pascasarjana, ITB
Pendidikan Terakhir:
1.  Magister Sains (Bidang: Kimia Fisik) – Sekolah Pascasarjana, ITB, tahun 2013
2.  Sarjana Pendidikan (Bidang: Kimia) – FMIPA, Universitas Negeri Medan, tahun 2008
Sejak 2009 mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN)- sekarang. Pernah juga mengajar di berbagai institusi pendidikan menengah dan tinggi di Nias.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...