Kamis, 14 Juni 2018

Beyond of Rules : Why not...?


Tulisan ini dilatar-belakangi oleh kesadaran pentingnya memberikan kesempatan seseorang (atau sekelompok) yang berada di luar garis “ideal” atau “aturan” untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Fakta sosial dan sejarah menyatakan bahwa banyak tokoh-tokoh yang mampu mendobrak  dan keluar dari rutinitas dan tuntutan background (apakah itu pendidikan, apakah itu budaya, apakah itu ajaran kepercayaan) yang dimilikinya dalam upaya mengangkatkan harkat dan martabatnya bahkan kelompok pun bangsa.

Sederhananya, saya mengambil contoh, seorang tokoh Susi Pudjiastuti, yang memutuskan berhenti bersekolah pada kelas 2 SMA, tidak dengan alasan ekonomi, tetapi lebih ke alasan panggilannya untuk resign, menganggap dia tidak cocok dengan sistem sekolah (jujur-red). Beliau hadir dengan kemandirian, keluar dari keberadaan orang tua dengan ekonomi yang mapan, mengupayakan sendiri usaha penjual bad cover, pengepul ikan sampai memiliki perusahaan pengolahan ikan, dan merambah ke perusahaan penerbangan perintis. Percaya atau tidaknya, fenomena kehidupan yang dialaminya ini adalah “beyond of rules”. Saya sering mengutip statementnya, bahwa: life is fully surprise, and many ‘coz insident.  Beliau membuktikan dirinya, kesuksesan tidak hanya diraih oleh sekat-sekat lurus, tetapi harus melompat melampaui sekat-sekat tersebut, melalui kerja keras.

Tidak mengherankan, keputusan Presiden Jokowi untuk mengangkatnya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, semata-mata karena dia adalah “beyond of rules”. Bukan sedikit pakar-pakar Kelautan, pakar-pakar Perikanan, praktisi-praktisi bidang yang relate yang secara “rules” dipandang lebih tepat menduduki jabatan tersebut, tetapi Presiden melihat dari sisi potensial sang Peri Laut tersebut. Secara pribadi, saya sangat salut dengan keputusan Presiden tersebut, karena ini merupakan starting untuk memperkenalkan figur-figur yang tidak biasa, yang potensial mendobrak permasalahn bangsa selama ini. Susi Pudjiastuti meresponnya dengan kerja nyata. Tidak lama menjabat Menteri, gebrakannya menuai banyak apresiasi dan tidak jarang juga kritik. Tetapi beliau menjawabnya dengan data dan fakta, bahwa kajiannya yang praktis justeru mampu mengantarkan Indonesia menjadi Jalesveva Jayamahe. November tahun 2016, Susi Pudjiastuti akhirnya diakui oleh Kemenristekdikti dan melalui Promosi Doktor Honoris Causa bidang Kebijakan Kelauatan dan Perikanan oleh Universitas Diponegoro, mengantarkan beliau sebagai figur yang  tanpa dia sadari berdampak pada pengakuan secara Akademik atas pencapaiannya selama ini. Bahkan belakangan ini, Institut Teknologi Sepuluh November, tahun 2017 tidak ketinggalan memberikan gelar Doktor Kehormatan di bidang Manajemen Perikanan pula.

Dari sejarah pula kita dapat belajar tentang tokoh-tokoh besar yang bekerja dan berkarya serta mengabdi di luar apa yang sekedar dimilikinya. Bekerja tanpa kekakuan “kutukan” aksesoris yang dilekatkan dan ditakdirkan kepada mereka. Tidak heran The Founding Fathers Republik Indonesia Dwitunggal Soekarno-Hatta, adalah tokoh yang tidak biasa, merekalah tokoh yang membuktikan dirinya sebagai “beyond of rules”. Bagaimana tidak, Soekarno yang adalah Insinyur dan Hatta yang adalah Ekonom, terpanggil memimpin bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, di tengah-tengah ancaman perpolitikan yang rentan dengan peperangan, sebagai efek Perang Dunia II. Pasangan dwitunggal tersebut keluar dari zona aman mereka untuk tampil, dengan penuh tanggung jawab untuk membuktikan Negara yang baru lahir tersebut telah memiliki tanah air, memiliki rakyat dan itu harus diakui oleh dunia.    

Pengantar ini, tentunya membuka setidaknya wawasan pembaca, tentang apa yang saya maksudkan dengan “beyond of rules”. Mengapa Pemerintah harus kaku, dalam menetapkan figur dan rekan pengeksekusi visi dan misinya? Atau Pemerintah justru tidak banyak melihat, mendengar, merasakan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat melalui aspek-aspek. Birokrasi pemerintah, baiknya belajar dari BUMN, yang lebih soft menerima karyawannya, bukan harus kelinieran dengan bidang pendidikan yang dimilikinya, tetapi lebih pada potensi yang ada dalam diri calon karyawan tersebut (meskipun tidak dapat digeneralisir untuk semua). Tetapi setidaknya, bidang-bidang yang lebih membutuhkan managerial tidak harus diplot oleh kondisi background pendidikannya. Saya ambil contoh, seorang Pejabat Fungsional dengan potensi yang dimilikinya, melampaui apa yang disyaratkan pada tugas pokoknya, memiliki potensi (peluang) untuk masuk ke bidang struktural (sebut saja pemerintahan), tidak harus menunggu bahwa dia haruslah lulusan ilmu pemerintahan, yang secara hemat saya memiliki template yang jelas utk dapat dilaksanakan. Misalnya lagi, seorang dokter (Fungsional khusus) memiliki potensi manajerial yang sangat mumpuni, karena hemat saya, pekerjaaan apapun dia, memiliki irisan manajerial (praktikal). Kompetensi kepribadian merupakan cerminan dari manajemen dirinya, demikian juga kompetensi profesionalnya, adalah hasil dari manajemen keprbadiannya, demikian juga interaksi yang baik dengan kolega dan sebagainya, hal-hal ini saya sebut sebagai potensi yang dia miliki. Belum lagi, dokter yang tahu lapangan kebutuhan, justru lebih berpengalaman akan kebutuhan bidang dan aspek kesehatan itu ada di mana. Melihat fenomena tersebut, tidaklah berkesalahan seandainya sang dokter menjadi Kepala Dinas Kesehatan, kalau memang yang pure birokrat bidang tersebut justru masih meraba-raba akan pemecahan masalah yang ada. Tetapi perlu hati-hati, hal ini merupakan pilihan karena kebutuhan urgent, bukan berarti membabi buta dalam memutuskannya. Demikian juga seorang guru yang sudah malang melintang di dunia pendidikan, memiliki karya yang banyak, berpengalaman sebagai direktur di sekolah dasar/menengah, mumpuni, tidak berkesalahan didaulat mengisi jabatan strategis di instansi induknya Dinas Pendidikan. Hemat saya, problematika dunia pendidikan, lebih terpampang nyata kepada pelakunya (praktisi) dibandingkan staf yang besar dari meja di kantoran saja. Atau bahkan negeri kita sendiri, kita melihat dinamika politik, sosok Ir. Joko Widodo seorang insinyur yang berejahwantah menjadi seorag pebisnis mebel, justru membuktikan dirinya sebagai solusif melalui karir politiknya sebagai Walikota, Gubernur hingga Presiden RI sekarang ini. Dan masih banyak contoh ekstrem lainnya berkenaan dengan hal tersebut di atas.

Alangkah tidak elok, jika kepercayaan diri itu muncul dari sang “beyond of rules”. Harusnya memang dilirik oleh si pemangku kepentingan. Sayangnya, fakta berbicara lain tatanan birokrasi masih kaku, dan dikuasai oleh kepentingan praktis, kepentingan politis, tidak memberikan ruang “beyond of rules” tumbuh dan berkembang.  Yang lahir justeru kepercayaan diri dari sosok (oknum) atau kelompok-kelompok tertentu yang mengedepankan kepentingan praktisnya dan cenderung tidak dibarengi dengan penguasaan pada masalah, berakibat menghadirkan birokrasi yang mandek, tidak ada gebrakan. Tidak jarang kita menemukan, birokrat (misalnya di daerah) hanya sebagai simbol dalam instansinya, sedangkan program yang ditawarkan tidak ada sesuatu yang baru, ataupun kalau mereka adalah bawahan, maka mereka berperan asal bapak senang (ABS), sungguh sangatlah amatir.   

Penulis menawarkan, agar peluang menghadirkan sosok “beyond of rules” dengan kepribadian dan pengalaman mumpuni di berbagai perikehidupan sebagai alternatif dalam mengurai permasalahan bangsa kita yang sangat pelik ini adalah nyata diterapkan. Peran kuncinya adalah pelaku Pemimpinnya. Alih-alih memberdayakan sosok “beyond of rules”, maka Pemimpin juga haruslah sosok yang “beyond of  rules”.  Seorang sosok pemimpin yang “beyond of rules” memiliki naluri dalam menelusuri keberadaan dan kondisi yang menjadi kekuatan dan kelemahan medan kerja yang diembannya. Sinergisitas antara pemimpin dan rekanan yang “beyond of rules” diharapkan mampu menghasilkan suatu tatanan organisasi (sebutlah itu birokrasi) yang baik.

Penulis lebih tepat menyebutkan bahwa pemimpin yang “beyond of rules” adalah “takdir”.  Ada kecenderungan bahwa bukanlah dorongan dirinya yang mengantarkan dia menjadi pemimpin tersebut, tetapi keadaan yang menghadirkan dianya pada saat yang tepat sebagai hasil sesuatu yang sudah “dinubuatkan”. Pendapat saya mungkin saja kontroversi, tetapi ini berdasarkan permenungan tentang pemimpin-pemimpin di dunia. Berapa banyak upaya dalam melengserkan pemimpin, agar dia duduk sebagai pemimpin. Kudeta yang banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok yang haus kekuasaan, juga akan berakhir pada lengsernya mereka akibat kedikatatoran yang mereka lahirkan. Pemimpin sejati sesungguhnya adalah terlahir, dan kehadirannya adalah unik bahkan banyak yang di luar dugaan logika, akan tetapi dirindu dan diterima pada akhirnya. Dipercaya atau tidak, pemimpin sejati tidaklah haus kekuasaan, tetapi memilih untuk peka meskipun dalam dia untuk menyelesaikan permasalahan kemashalatan. Kisah Mahatma Gandhi dan Bunda Teresa adalah contoh dari sosok yang saya maksudkan.

Akhirnya, sosok “beyond of rules” adalah sesuatu yang unik dan menarik, bahkan tak terduga. Kerangka berpikir tentang kehadiran dan kemunculannya sebagai “takdir” haruslah dipahami dalam wujud sosok tanpa pamrih, yang menanggalkan kepentingan sendiri dan mengutamakan kepentingan orang lain (orang banyak). Pola yang tampak klasik, tetapi sesungguhnya ini yang memang kita butuhkan.

(by Sun Theo C.L. Ndruru)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karakterisasi Material Polimer: Studi Kasus Mikrokristalin Selulosa (MCC)

Untuk mempelajari stuktur dan sifat mikrokristalin selulosa (MCC), beberapa teknik telah banyak dilakukan peneliti. Analisis-analisis te...