Kamis, 23 April 2020

Pentingnya Wawasan Interkoneksi Ilmu dalam Pembelajaran: Suatu Pengantar (The Importance of Sciences Interconnection Insight in Learning: An Introduction)


Mungkin beberapa siswa ataupun kita sebagai guru pernah kewalahan untuk menjawab tujuan suatu materi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Munculnya pendekatan kontekstual dianggap mendorong pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, sejauh ini apakah hal ini belum efektif, sehingga banyak siswa merasa tidak butuh mata pelajaran tertentu yang berakibat pada rendahnya hasil belajar mereka. Di sinilah peran guru harus mampu menjawab tantangan ini.


Kalau ditilik tidak ada disiplin ilmu yang dapat berdiri sendiri, terutama jika disiplin ilmu tersebut adalah ilmu terapan dari berbagai disiplin ilmu seperti Kedokteran, Keteknikan, Pertanian, TIK, Manajemen dan Ilmu Sosial lainnya. Kita ambil contoh, Prodi Teknik Industri mempelajari ilmu Fisika dan Matematika hingga ilmu sosial Manajemen, untuk menjamin terapannya dalam dunia industri. Atau bahkan Ilmu Murni sekalipun seperti Kimia yang tidak bisa secara tunggal terpisah dari pemahaman Fisika maupun Biologi. Seorang expert di bidang Kimia Fisik Material misalnya, harus menganalisis komponen-komponen material biologis misalnya kulit, batang, akar tumbuhan tersebut mengandung zat bioaktif tertentu menggunakan teknik-teknik pemisahan Kimia misalnya ekstraksi, hingga akhirnya secara teknik modifikasinya menggunakan perlakuan kimia maupun fisika. Pemahaman fisikapun akhirnya dibutuhkan misalnya dalam penerapan material tersebut sebagai sumber energi, dengan mengkarakterisasi sifat-sifat fisiknya misalnya kestabilan mekanik: stress dan strain, ketahanan panas dan konduktivitas ionnya. Dari contoh ini, maka jelas tidak utuh pemisahan-pemisahan disiplin ilmu tersebut.

Cabang ilmu sosial juga saling terkait satu sama lainnya. Ketika mempelajari ilmu hukum, maka pemahamamn tentang latar belakang (sejarah) munculnya hukum tersebut tidak boleh dianggap remeh. Ketika belajar ilmu sosiologi maka pemahaman tentang budaya juga dibutuhkan. Yang pada akhirnya semua disiplin ilmu tersebut harusnya diberikan kedudukan yang sama dalam artian sama pentingnya, sehingga tidak ada lagi ego pada bidang masing-masing, karena pada akhirnya semua saling membutuhkan atau saling terkait.

Contoh lainnya, jika kita berbicara tentang peningkatan nilai tambah produk ekonomi. Kajian dimulai dari bagaimana memanfaatkan benda-benda di sekitar yang tak bernilai dapat ditingkatkan nilainya melalui perlakuan-perlakuan baik fisik maupun kimia. Seperti yang banyak kita ketahui biodiesel dari minyak sawit biasanya total diperoleh dari daging buahnya, sementara residu tandan kosongnya tidak diapa-apakan. Padahal residu tersebut mengandung metabolit primer selulosa yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bioplastik, bioetanol, elektrolit padat, bahan farmasi dan lain-lain, yang tentu saja membutuhkan keahlian misalanya kimia, teknik kimia, fisika maupun biologi untuk mengelolanya. Sementara dalam memasarkannya dibutuhkan manajemen pasar dan ekonomi sehingga dapat dikonsumsi dan sampai ke masyarakat. Demikian pula kegiatan-kegitan akademik seperti publikasi imiah, penulisan karya tulis hingga kegiatan jurnalistik profesional, pemahaman tentang ketatabahasan adalah urgen agar dapat dipertanggungjawabkan dan elok dimengerti. Dalam bidang ini selain pemahaman substansi, maka penyajian dalam kaidah berbahasa dan menulis yang benar sangatlah penting.

Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian dari banyaknya kasus yang secara tidak kita sadari menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, alangkah disayangkan pembelajaran yang seharusnya media untuk menanamkan wawasan tentang hal ini terbaikan secara sadar maupun tidak sadar yang mengakibatkan pereduksian tujuan belajar itu sendiri. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator itu dibutuhkan.

Guru masa kini haruslah memiliki wawasan yang luas, tidak cukup dengan teorema disiplin ilmu yang dia miliki untuk membawa anak didik berperilaku yang relevan sesuai dengan tantangan masa kini dan masa depan. Meskipun kenyataannya, pelaksanaan interkoneksi antar ilmu ini tidak bisa dengan utuh menjadi pelajaran khusus, tetapi paling efisien dapat disisipkan di setiap materi ajar hampir atau bahkan di seluruh mata pelajaran. Sebenarnya pada buku-buku pelajaran sudah menyajikan pengantar yang membuka cakrawala tentang bahasannya secara kontekstual di setiap pokok bahasan (perhatikan buku-buku pelajaran), adapula yang dicantumkan pada advanced organizer atau bahkan di bagian dari kurikulum tersebut misalnya di akhir sub pokok bahasan. Namun, apakah mereka-mereka itu diperhatikan khusus atau sekadarnya atau bahkan terabaikan?

Ketidakberdayaan luaran sekolah terhadap tantangan masa kini, merupakan salah satu indikator terabainya pentingnya wawasan interkoneksi ilmu. Munculnya peristilahan “salah jurusan”, menyesal, tidak maksimal, tidak tahan tantangan, bosan hingga kasus drop out pada bidang yang sedang dijalaninya adalah satu dari lemahnya wawasan tentang ilmu pengetahuan dan keterikatan antar bidang tersebut. Wawasan interkoneksi juga penting dalam mengevaluasi diri, mengukur kemampuan dan pada akhirnya menjadi kepribadian yang siap menghadapi tantangan. Pribadi yang berwawasan interkoneksi menjadikan ilmu bukan sebatas untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dia miliki, tetapi mencari solusi yang menyeluruh dan mengaitkannya satu sama lain, sehingga akhirnya menjadi bagian dalam pencerdasan dan pensejahteraan masyrakat.

Kembali pada peran guru di sekolah. Pembelajaran yang berwawasan interkoneksi tampaknya bisa menjadi pendekatan yang dipilih oleh guru baik secara langsung maupun tidak langsung. Sistem sekolah dan manajemen sekolah yang fleksibellah yang mampu mewujudkannya. Sistem sekolah dengan pimpinan dan stakeholder yang memiliki pandangan ke depan yang harus menggiring guru-gurunya atau personil-personil sekolahnya untuk menerapkan pendekatan tersebut. Sekolah dengan pendekatan wawasan interkoneksi ilmu ini tampaknya akan menjadi impian, sehingga menghasilkan luaran-luaran berupa SDM yang memiliki wawasan yang tidak sempit dan tidak lagi memojokkan satu atau dua bidang ilmu tertentu. Guru-guru perlu banyak bertukar pikiran dengan guru-guru bidang lainnya, selain difasilitasi dengan bahan-bahan bacaan yang membuka cakrawala pengetahuan dan updating pemahaman, dan juga memfasilitasi guru-guru untuk mengikuti seminar-seminar penting tentang kapita selekta keilmuan dan relvansinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan upaya ini maka dapat dipastikan guru sebagai penggerak dan utamanya mendorong penerapan merdeka belajar.

Merdeka belajar yang dikampanyekan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju (KIM) tampaknya bisa terwujud melalui pembelajaran interkoneksi ilmu yang ditawarkan pada tulisan ini. Merdeka belajar memfasilitasi siswa untuk merdeka memilih apa yang dia mau atau tekuni, memberikan kebebasan kepada mereka-mereka yang mamu mengembangkan dirinya tanpa batas, apalagi dengan sekat-sekat ilmu yang kaku, tetapi tanpa melanggar etika sebagai akademis. Dihapuskannya Ujian Nasional (UN), desain rencana pelaksanaan pembelajran (RPP) yang sederhana serta sistem zonasi penerimaan pesera didik baru yang lebih fleksibel tampaknya selaras dengan tujuan tulisan ini yang memberi ruang ekspresi dan ruang gerak si pebelajar (peserta didik).   Ke depan diharapkan tidak ada lagi generasi yang merasa inferior dengan eksistensi yang dia tekuni, semua berkarya membangun negeri, berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasar Pancasila dan UUD 1945.

Penulis:
1.       STCL Ndruru (Alumnus Pascasarjana ITB)
2.       Theo Raynold EB Ndruru (Mahasiswa FITB Tk II ITB)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penting, tetapi bukan yang utama: Pengamatan tentang implementasi pembelajaran daring/online

Tulisan ini dilatarbelakangi pengamatan kami lakukan terhadap pelaksanaan pembelajaran berbasis jaringan di tengah-tengah pandemic corona ...